Nayla terbangun lagi menjelang siang. Kepalanya berat. Mata perih. Rasanya baru saja tertidur sebentar padahal tangisnya sempat berhenti hanya karena lelah. “Udah, Nay,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Nggak bisa diem di sini terus.” Ia duduk di ujung kasur. Menatap amplop, kertas, dan kunci yang tadi pagi masih ia peluk sambil menangis. Sekarang, semuanya terasa seperti barang asing yang kebetulan tertinggal. “Pernikahan siri…” Nayla menarik napas panjang. “Demi kuliah. Demi hidup. Demi semuanya.” Tangannya gemetar sebentar. “Tapi ternyata tetap aja… sakit.” Ia menegakkan bahu. “Udah. Aku berhenti nyalahin siapa pun.” Seolah berbicara dengan sosoknya di cermin, Nayla melanjutkan, “Mulai hari ini, hidup aku tanggung jawab aku sendiri.” Ia bangkit. Mencari ponselnya. Membuka kontak. Menatap satu nama yang dulu jadi tempat pulang. Rafael. Lama sekali. Lalu pelan-pelan, ia menekan hapus. “Maaf, Raf. Aku harus jaga diri aku.” Beberapa jam kemudian, Nayla duduk di kursi
Last Updated : 2026-01-06 Read more