Nayla menekan tombol lift dengan tangan gemetar. Kepalanya sedikit pening sejak pagi. Mualnya datang dan pergi, tapi hari ini rasanya lebih kuat dari biasanya. “Tarik napas…” gumamnya pelan. Di dalam lift, bayangannya di cermin kembali menatapnya. Pucat. Bibirnya kering. Senyumnya gagal. Begitu pintu terbuka, langkahnya keluar pelan. Lobby rumah sakit itu terasa terlalu besar untuk seseorang yang ingin sembunyi. Ia duduk di bangku tunggu, menggenggam nomor antrean. “Nomor delapan puluh tujuh,” panggil perawat. Nayla berdiri. Kakinya agak goyah, tapi ia paksakan masuk ke ruangan dokter kandungan. “Silakan duduk,” ucap dokter perempuan berusia sekitar empat puluhan, ramah tapi tegas. Nayla duduk, menelan ludah. “Saya… mau periksa, Dok.” “Sudah telat haidnya berapa lama?” “Sekitar… tiga minggu.” Dokter mengangguk. “Ada mual? Lemas?” Nayla mengangguk lagi. “Ada, Dok.” Beberapa pertanyaan mengalir. Lalu pemeriksaan. Sunyi. Hanya bunyi alat dan detak kecil yang entah berasal d
Last Updated : 2026-01-04 Read more