Larissa tidak menangis hari itu,untuk seseorang yang baru saja menyimpulkan bahwa suaminya hidup di dua tempat. Tidak ada drama. Tidak ada adegan memecahkan barang. Tidak ada telepon panjang penuh pertanyaan. Yang ada hanya satu keputusan sederhana: Kalau kamu memilih berbohong, aku akan memilih diam—dan melihat sendiri. Larissa mengenakan kemeja putih sederhana, celana hitam, dan sepatu datar. Rambutnya diikat rapi. Penampilannya sama seperti perempuan profesional yang selalu dilihat orang: tenang, terkendali, tidak emosional. Padahal di dalam dirinya, sesuatu sedang bergerak pelan. Bukan amarah. Melainkan fokus. Sore itu gedung kantor Rafael berdiri seperti biasa—tinggi, dingin, penuh kaca dan citra profesional. Larissa memarkir mobilnya agak jauh, bukan karena tidak ada tempat, tapi karena ia tidak ingin terlihat. Larissa memilih duduk di kafe kecil seberang gedung, tempat orang-orang biasa bekerja sambil menunggu. Laptopnya terbuka. Email dibalas. Pekerjaan tetap berjala
Last Updated : 2025-12-26 Read more