“Aku nggak tahu masa depan,” kata Rafael jujur. “Tapi selama kamu di sini, kamu tidak akan pernah sendirian.” Kalimat itu masih menggantung di udara ketika Nayla mengangguk pelan. Bukan karena yakin sepenuhnya, melainkan karena ia butuh berpijak pada sesuatu—apa pun—agar tidak tumbang malam itu. Rafael berdiri, lalu meraih handuk kecil di meja. Ia mengusap rambutnya sekilas, kebiasaan yang muncul setiap kali ia sedang berpikir terlalu banyak. Nayla memperhatikan dari tempatnya duduk, memeluk lutut, mencoba menenangkan detak di dadanya. “Minum?” tanya Rafael, menunjuk dapur. Nayla menggeleng. “Nanti.” Rafael tidak memaksa. Ia duduk di sisi ranjang, memberi jarak yang cukup. Tidak mendesak. Tidak juga menjauh. Kehadiran yang tenang, seolah berkata: aku di sini, kalau kamu perlu. “Rani ngomong apa lagi?” tanya Rafael akhirnya. “Istri kamu,” jawab Nayla singkat. Rafael menghela napas. Bukan karena marah, melainkan lelah. “Aku tahu kata itu… berat.” “Bukan baru,” Nayla tersenyum k
Last Updated : 2025-12-22 Read more