Suara bising dari pengering tangan di luar tak mampu meredam isak dari salah satu bilik toilet kantor polisi Hackney yang dingin. Di dalam, Rachel bersandar pada dinding porselen yang lembab. Bahunya yang biasa tegak dan kaku kini merosot, terguncang oleh napas yang tersengal. Di hadapannya, Lucy berdiri diam. Tak ada kata-kata penghiburan kosong. Tak ada penghakiman. Lucy hanya mengulurkan kedua tangannya. Mengelus punggung wanita itu. Membiarkan detektif yang dikenal tak punya rasa takut itu luruh di pundaknya. Meninggalkan jejak basah di blus sifon halusnya. Selama ini, Rachel memandang Lucy sebagai titik lemah di tim mereka. Terlalu perasa. Terlalu mudah tersentuh. Akan tetapi, sekarang, dalam remang cahaya lampu neon yang berkedip, Rachel merasa malu. Malu karena pertahanannya patah, dan malu karena dia justru menemukan perlindungan pada orang yang selalu dia remehkan. "Aku hanya lelah, Luce," bisik Rachel, suaranya parau dan pecah. "Kasus ini... penilaian tim... semu
Terakhir Diperbarui : 2026-01-03 Baca selengkapnya