แชร์

31. Jejak Tak Terhapus

ผู้เขียน: Nina Milanova
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-28 18:49:46
Pintu apartemen tertutup dengan bunyi mengait yang tajam dan final. Meninggalkan keheningan yang terasa kosong dan asing. Bukan tenang. Seperti sebelum Greg memasuki hidup Tara.

Tara tidak mengejar pria itu. Kakinya tetap terpaku di lantai keramik yang dingin. Tangannya masih mencengkram tepian pagar balkon dengan erat. Tubuhnya masih gemetar, dan kaca-kaca di matanya luruh jadi sungai.

Angin pagi yang membawa sisa hujan semalam menepuk wajahnya. Akan tetapi, Tara tidak merasakan hawa dingin yang menusuk itu.

Rasa bersalah itu ada. Menggumpal di dadanya seperti batu yang ditelan paksa.

Bukan karena dia telah menuliskan kematian-kematian itu. Bukan pula pada luka yang selalu tersirat di mata Greg. Melainkan karena dia membiarkan Greg singgah. Membiarkan pria itu melihat sisi tergelap dari imajinasinya. Dari dirinya. Lalu, dengan bodoh, Tara menyerahkan tubuhnya untuk dijadikan tempat pelampiasan dan alat interogasi.

Tara ingat perkataannya sendiri, sebelum Greg terbenam di dal
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   42. Kegilaan di Ladbroke Grove

    Tara membereskan meja kerjanya dengan sedikit tergesa-gesa. Kepalanya terasa penuh, bising oleh suara-suara yang bertentangan. Ada suara Greg yang penuh dominasi, suara Isaac yang penuh harap, suara Elaine yang penuh tuntutan, dan suara bisik-bisik rekan kerjanya yang penuh racun. Jam di ponsel menunjukkan pukul lima sore. Langit London sudah menyerah pada kegelapan yang datang lebih awal, diiringi gerimis yang seakan enggan berhenti sejak pagi. Lampu-lampu di perpustakaan mulai dipadamkan satu per satu, menandakan berakhirnya jam operasional bagi publik. Dia tahu Greg masih ada di luar. Pria itu tidak mungkin pergi. Greg adalah jenis pria yang jika sudah menancapkan taringnya, tidak akan melepaskan gigitan sampai dagingnya terkoyak. Namun, Tara sudah memutuskan. Dia tidak akan menjadi boneka yang patuh. Jika Greg ingin bermain peran sebagai pemburu dan pelindung, Tara akan menjadi umpan yang sulit ditangkap. Wanita itu menyampirkan tas di bahu, merapatkan cardigan putih panjangny

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   41. Serigala di Kandang Anjing

    Sementara itu, tiga jam lalu di lantai teratas New Scotland Yard, Bill masih duduk di sofa yang sama sambil menatap kosong cangkir kopinya yang juga sudah kosong. Seakan semua jawaban atas apa yang terjadi hari ini sudah menguap dari sana.Henry juga masih duduk di kursi kebesarannya. Pria itu seperti orang yang baru saja selamat dari serangan jantung, tetapi berharap untuk mati saja. Wajahnya yang biasanya memerah, kini sewarna kertas laporan di atas mejanya. Kertas-kertas bukti transfer dana ilegal, catatan penggelapan kasus, dan stempel 'Insufficient Evidence' pada kasus kekerasan seksual atas Tara Elizabeth Bradley yang sengaja dia kubur enam tahun lalu. Semuanya kini teronggok di depannya, menatapnya balik dan menuntut pertanggungjawaban. Pria itu dengan cepat membalik foto-foto hasil visum Tara agar tak makin menambah rasa berdosanya."Kau..." Henry mendesis ke arah Bill. Suaranya serak, goyah, kehilangan wibawa yang selama puluhan tahun dia bangun di atas fondasi kebohongan. M

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   40. Obyek Skandal

    Greg masih berdiri mematung di tempatnya. Matanya yang tajam bak elang pengintai masih mengunci punggung wanita yang baru saja melakukan tindakan pengkhianatan paling halus tetapi paling menyakitkan di depannya.Gaun merah hati itu seharusnya dilarang berada di ruang publik. Apalagi di tempat yang hampir sakral seperti di perpustakaan ini.Gaun itu serta cardigan putih yang membungkus tubuh Tara ibarat darah segar yang mengalir di atas hamparan salju. Kontras, mengejutkan, dan berbahaya. Greg membayangkan bagaimana kain itu terasa di bawah telapak tangannya, dan mengapa Tara dengan sengaja memilihnya pagi ini.Dia menyatakan perang. Buntut dari Greg meninggalkannya dengan kata-kata kasar di apartemen tempo hari.Namun, yang membuat darah Greg mendidih hingga ke ubun-ubun bukan semata-mata karena pakaian yang mengekspos tubuh yang ingin dia kuasai sendirian. Kemarahannya dipicu oleh bagaimana Tara berbicara pada Isaac Irving.Dia melihatnya. Dia mendengar setiap intonasi yang Tara maink

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   39. Gaun Merah dan Aturan Main

    Hari menjelang pukul dua siang. Di ruangannya, Tara menyisir rambutnya, menariknya ke atas, dan mengikatnya tinggi-tinggi hingga mengekspos garis lehernya yang jenjang. Bukan sekadar merapikan diri. Melainkan sebuah tindakan yang dia harap bisa memberikan rasa kendali.Dalam hitungan menit, dia harus sudah ada di ruangan kepala perpustakaan. Wanita itu menyambar buku catatan dan pulpennya, lalu bangkit dari duduknya dan beranjak ke pintu. Menuju lorong-lorong rak tinggi yang menyerupai labirin kayu ek tua.Bau debu dari buku-buku tua yang biasanya mampu meredakan badai di dalam dirinya. Namun hari ini, aroma itu gagal. Setiap inci tubuhnya yang dibungkus dress merah hati yang menantang dan cardigan putih yang menyamarkannya, masih terasa panas. Memori akan sentuhan Greg masih menempel di kulitnya.Saat melewati rak psikologi, tangannya terulur, menyisir punggung buku yang berbaris di sana. Dia kerap mencuri waktu di sini, mencari perlindungan dalam teori-teori tentang trauma dan ikatan

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   38. Distraksi yang Mematikan

    Pagi itu, Notting Hill tidak lagi beraroma mawar, rempah-rempah, dan tembakau mahal. Tara terbangun dengan napas yang terasa berat, seperti menghirup debu dari buku tua yang sudah lama tak tersentuh. Dia membuka mata dan menyadari kamarnya telah bertransformasi menjadi ruang aseptis yang dingin. Petugas kebersihan kemarin telah menjalankan tugas mereka dengan ketelitian anggota tim forensik. Aroma laut buatan yang asin dan tajam mengepung ruang tengahnya. Sementara itu, dari balik pintu kamar mandi, sisa-sisa klorin menguap seperti gas air mata. Sebuah upacara penghapusan yang sempurna. Tak ada lagi helai rambut hitam di bantal, tak ada lagi sisa jejak sepatu boots di lantai parket, dan yang paling menyakitkan, tak ada lagi aroma maskulin yang sempat menjajah indranya. Greg Evans telah lenyap. Tara telah mengusir jejak pria itu dari dinding dan lantai apartemennya. Meskipun begitu, Tara tahu, dia gagal mengeluarkan sang detektif dari labirin dalam kepalanya. Tara merasa ha

  • UNWRITTEN OBSESSION (Hasrat Terlarang Sang Detektif)   37. Kemenangan yang Pahit

    Sidang di ruangan Henry Cavendish pagi itu berakhir dengan senyap. Pintu ruangan tertutup dengan dentuman yang lebih berat dari biasanya di belakang Greg. Meninggalkan ketegangan yang beku di lantai teratas New Scotland Yard. Henry masih terpaku di kursinya. Lembaran kertas di tangannya kini tampak seperti pisau cukur yang siap menyayat nadinya sendiri. Martabat yang dia bangun selama puluhan tahun, arogansi yang dia pamerkan di depan cerutu mahalnya, menguap begitu saja. Pria itu tampak menua sepuluh tahun dalam hitungan detik. Napasnya pendek, dan keringat dingin mulai membasahi kerah kemeja seragamnya. Bill, yang biasanya memiliki komentar untuk segala hal, hanya bisa menatap nanar ke arah meja. Dia tidak melihat isi amplop itu. Akan tetapi, dia melihat kehancuran di wajah atasannya. Masih lekat di pelupuk matanya saat Greg yang berjalan menjauh. Ada perasaan asing yang menyelimuti. Seolah-olah pria yang baru saja keluar dari ruangan itu bukanlah anak muda yang dia kena

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status