Suara hujan tipis menetes di luar jendela pendopo kecil itu. Raden Rara Nawang duduk bersila di depan meja kayu rendah, pena buluh di tangannya bergerak pelan di atas selembar lontar. Ia sedang menyalin tembang Jawa kuno, menata setiap aksara dengan teliti, meski pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Sesekali ia berhenti, meniup ujung pena, lalu menatap keluar jendela. Langit Lasem tampak kelabu. Entah mengapa, hatinya terasa gelisah sejak pagi. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi jauh di sana, di Mataram. "Kok rasanya kayak kangen gitu, ya, sama Mataram? Padahal dulu pengin minggat dari sana, sekarang malah pengin balik. Hmmm." Ketika itulah Kenanga, datang tergesa-gesa. Nafasnya tersengal, kain jariknya sedikit basah oleh hujan. "Gusti Rara," panggilnya pelan. Nawang menoleh, terkejut melihatnya agak basah. "Kenanga! Kamu ngapain ujan-ujanan, sih? Kan, payung banyak disini!" Omel Nawang "Hanya sedikit, Gusti." "Sedikit apaan? " dengusnya. "Kalau kamu sakit, nanti siapa ya
Read more