Nawang bisa merasakan kehadiran Rangga tepat di belakangnya, hangat, intens, tapi tidak menekan. “Aku akan memegang kendalinya,” ujar Rangga pelan namun tegas dari belakangnya. “Peganglah pelana dengan kuat. Aku tidak akan menjatuhkanmu.” Nawang mengangguk pelan, masih menunduk. Dari samping, Arya menatap mereka berdua dengan sorot tajam yang sulit dibaca, antara tidak setuju, khawatir, dan… entah sedikit cemas akan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum mengakuinya. Rangga kemudian menepuk perlahan leher kudanya. “Kita berangkat,” katanya. Kuda pun mulai melangkah perlahan, sementara lima prajurit mengangkat tandu sederhana untuk membawa jenazah pria misterius itu, mengikuti dari belakang. Arya mengambil kuda kedua dan menungganginya, memastikan dirinya berada di sisi kanan Rangga dan Nawang cukup dekat untuk melindungi, tapi cukup jauh agar tak terkesan ikut mencampuri. Nawang menatap jalan di hadapannya dengan napas yang perlahan menstabil. Tapi di dalam dirinya, alur pe
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-29 อ่านเพิ่มเติม