Kata-kata itu meluncur pelan, tapi menggema di hati Nawang. Ia menatap Rangga lama, mencoba memahami maksud di balik ucapannya yang tiba-tiba. “Kenapa kau mengatakan itu?” suaranya lirih, nyaris seperti bisikan angin. Rangga hanya tersenyum samar. Ada keteduhan sekaligus luka di balik senyum itu. “Hanya ingin mengatakannya saja,” ucapnya singkat. “Kau sudah cukup menanggung banyak hal sendirian. Maka, jika dunia menolakmu, ingatlah… ada satu orang yang tidak akan.” Nawang terdiam, matanya bergetar menahan sesuatu yang sulit dijelaskan. Antara haru, bingung, dan takut. Namun sebelum ia sempat membalas, Rangga melangkah mundur perlahan, menjaga wibawa di tengah kelembutan itu. “Sekarang, pergilah,” katanya akhirnya. “Kembalilah ke Balairung, sebelum mereka mencarimu.” Nawang menatapnya sekali lagi, mencoba mengunci wajah itu dalam ingatannya. Lalu ia menunduk sedikit, memberi hormat, dan berbalik pergi. Kali ini, ia tidak menoleh lagi. Tapi di dadanya, suara Raden Rangga ter
Read more