Melihat wajah tegang Anya, Rayden tiba-tiba terkekeh, membuat perempuan itu memasang wajah bingungnya.“Aku bercanda,” ucapnya.Raut wajah Anya yang tegang kini sedikit melunak, tapi tidak sepenuhnya menenangkan detak jantungnya yang berdebar tak karuan.Melihat Anya masih diam mematung, Rayden mengalihkan topik.“Anya, bisa buatkan kopi?”Anya yang sebelumnya diam kaku, kini mulai bergerak dan menganggukkan kepalanya. Tanpa mengatakan apapun ia beranjak dari tempat itu, melangkah menuju dapur.Begitu tiba di sana, bi Jumi langsung memberikan godaan pada Anya.“Gelangnya bagus, Mbak,” ucapnya sambil melirik gelang yang Anya kenakan.”Sepertinya Pak Rayden tahu gelang yang cocok untuk Mbak Anya.”Anya tidak menjawab. Ia tetap fokus meracik kopi untuk Rayden, seakan setiap gerakan tangannya adalah cara untuk menghindari percakapan . Namun, ucapan Bi Jumi berikutnya membuat gerakan tangannya seketika terhenti.“Sepertinya Pak Rayden sangat mencintai Mbak Anya. Saya bisa lihat dari gerak-g
Mehr lesen