LOGINSesuai kesepakatan yang telah disetujui kedua belah pihak, Rayden segera meminta dokter untuk melakukan tes DNA.Dokter dan perawat kemudian mengambil sampel DNA dari bagian dalam pipi bayi menggunakan alat khusus. Sampel serupa juga diambil dari Rayden dan Kevin untuk keperluan pencocokan data genetik.Misra terlihat begitu yakin bahwa bayi itu adalah cucu kandungnya. Meski wajah sang bayi tidak memiliki kemiripan yang mencolok dengan Kevin, ia percaya wajah seorang bayi dapat berubah seiring pertumbuhannya.Setelah dokter mengambil DNA masing-masing dari kedua laki-laki itu, dokter itu bersuara.”Untuk hasilnya nanti, akan keluar sekitar empat sampai tujuh hari. Jadi saya harap Bapak dan Ibu bisa menunggu.”Misra melirik sinis pada Anya. Dengan sengaja ia bersuara keras.”Sudah pasti hasil DNA yang akan keluar menunjukkan bahwa bayi itu anak Kevin. Apa sulitnya menerima fakta.”Anya berusaha tak terpancing dengan ucapan wanita paruh baya itu. Membalas dengan emosi pun percuma, yang ad
Anya tak tahu harus berkata apa lagi. Rasa syukur terus mengalir dalam setiap doa yang ia panjatkan sejak putranya lahir ke dunia.Dulu ia sempat mengira tak akan pernah mampu memberikan keturunan. Namun, kenyataan membuktikan sebaliknya. Kini, seorang bayi mungil nan tampan telah hadir dalam hidupnya, memenuhi relung hatinya dengan kebahagiaan yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.Senyum hangat mengembang di bibir Anya saat pandangannya tak lepas dari putra kecilnya yang masih berada dalam gendongan Bi Jumi. Dadanya dipenuhi cinta yang begitu besar hingga membuat jantungnya berdebar haru.“Adil sekali ya, Mbak. Wajahnya mirip Pak Rayden tapi sekilas mirip Mbak Anya juga,” ucap bi Jumi menatap gemas bayi itu.Anya hanya tersenyum kecil. Pintu ruangan terbuka. Anya langsung menatap ke arah ke pintu, dan raut wajahnya langsung berubah. Senyuman yang terpatri di wajahnya langsung sirna.Kevin melangkah masuk ke dalam ruangan bersama dengan Misra.“Ya ampun cucu Nenek.”Misra tanp
Seperti hembusan angin yang datang dari arah tak terduga, kabar tentang melahirkannya Anya dengan cepat memenuhi berbagai portal berita online.Sejak isu kedekatannya dengan putra tunggal pemilik perusahaan ternama di kota itu sempat menjadi perbincangan, kehidupan Anya kembali menjadi sorotan. Setelah sebelumnya mereda usai Rayden memberikan klarifikasi, kini publik kembali mengulik setiap sisi kehidupannya seiring kabar kelahiran sang bayi yang menyebar luas.Foto-foto Anya saat keluar dari ruang bersalin, disusul petugas medis yang membawa seorang bayi menuju ruang rawat yang sama, dengan cepat tersebar dan menjadi perhatian publik. Meski wajah bayi itu tidak terlihat jelas.Paparazi diam-diam telah mengabadikan momen tersebut sebelum menyebarkannya ke berbagai media online.Tak butuh waktu lama, berita itu sampai ke telinga Arum.Wanita paruh baya itu menatap layar gawainya tanpa berkedip, mengamati satu persatu foto yang terpampang. Deskripsi pada setiap berita semakin memancing
“Saya suaminya, Sus. Jadi, izinkan saya masuk.”Mendengar itu suster itu langsung membuka pintu yang sempat ia tahan. Rayden segera masuk ke dalam.Langkah kaki Rayden yang sebelumnya tergesa-gesa perlahan memelan begitu melihat Anya kesakitan dengan kontraksi yang dirasakan.Ia mendekati perempuan itu, di mana Anya langsung menoleh padanya. Ia langsung memegang erat sebelah tangan perempuan itu lalu mengusap kepalanya, setidaknya ini dapat menenangkannya.Sungguh, melihat pemandangan ini membuat hatinya sesak. Melihat Anya yang berjuang melahirkan buah hati mereka.“Kamu pasti bisa melahirkannya. Aku di sini bersamamu,” bisik Rayden sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Anya.Anya terus mengejan sambil mencengkram erat tangan Rayden. Napasnya memburu, sementara dokter berkali-kali mengarahkannya agar kembali mengejan dengan sekuat tenaga.Tubuh Anya mulai kehabisan tenaga. Namun, bayangan akan segera bertemu buah hati yang telah lama dinantikannya membuat semangatnya tak pernah
Dalam perjalanan yang hening. Anya melirik Rayden yang fokus menyetir mobil. Ia menundukkan kepalanya sambil mengusap perutnya. “Maaf ya Mas, karna aku semuanya jadi begini.” Perkataan yang terlontar dari Anya langsung membuat Rayden menoleh. Ia menatap sejenak pada perempuan itu dan kembali fokus ke depan. Tangan laki-laki itu perlahan menggenggam tangan Anya dengan erat. “Ini bukan salahmu, Anya. Semua yang terjadi tidak ada sangkut pautnya denganmu.” “Tapi, apakah bisa kita menjalani hubungan ini saat orang tuamu menolakku?” “Kamu tidak perlu memikirkan hal itu,” ucap Rayden lembut.”Terpenting, aku sudah menjelaskan semuanya. Kamu adalah perempuan yang kupilih, dan itu tidak akan berubah.” Anya menatap Rayden dengan sorot mata yang sendu. Kehangatan dalam suaranya perlahan menenangkan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi hatinya. Ia merasakan tangan pria itu berpindah dan mengusap lembut perutnya. “Cepat atau lambat, orang tuaku pasti akan luluh. Mungkin bukan sek
Suasana aula perusahaan tampak ramai oleh kehadiran para wartawan dari berbagai media. Mereka telah duduk rapi di kursi yang disediakan, sementara deretan meja panjang di atas panggung menjadi pusat perhatian.Beberapa wartawan terlihat sibuk melakukan persiapan terakhir. Kamera-kamera dipasang di berbagai sudut ruangan untuk merekam jalannya konferensi pers yang akan digelar oleh putra tunggal Lucas itu.Sejak pagi, kabar miring tentang Rayden semakin ramai diperbincangkan publik dan menjadi sorotan di berbagai media sosial. Menyadari situasi yang kian memanas, Rayden tanpa ragu memerintahkan David untuk segera menghubungi dan mengumpulkan para wartawan.Hari ini, ia berniat meluruskan semua berita bohong yang beredar sekaligus mengakhiri spekulasi yang terus menyeret namanya.“Apa yang anak itu lakukan? Kenapa dia justru memperparah masalah?” Lucas mengeram emosi tidak jauh dari sana.Sungguh, Lucas tidak habis pikir dengan apa yang putranya lakukan. Di lorong perusahaan Rayden me
Suara berisik yang mengganggu membuat Kevin yang tengah tertidur terbangun. Ia melirik ke kamar mandi dan melihat Anya baru keluar dari sana dengan wajah yang tampak pucat. Meskipun begitu ia memilih untuk kembali melanjutkan tidurnya, namun sentuhan lembut di lengannya membuatnya berdecak dan kem
Satu bulan kemudian…Anya dibuat gelisah dan semakin digantung oleh suaminya sendiri yang jarang pulang ke rumah, bahkan suaminya sudah menghentikan kiriman uang ke rekeningnya. Bagaimana bisa ia memenuhi kebutuhannya bila suaminya sendiri hilang entah ke mana.Untuk kesekian kalinya ia menelpon su
Alis laki-laki itu berkerut, tidak mengerti dengan keberanian perempuan di depannya. Namun, sebelum ia memulainya, bibir lembut itu tiba-tiba menyentuh bibirnya lebih dulu. Seketika darahnya berdesir, sensasi panas menjalar cepat ke seluruh tubuhnya.Ia terdiam, menahan gejolak yang mulai menguasai
Tubuh Anya menegang melihat suaminya dengan bangga memperkenalkan seorang perempuan yang kini berdiri di samping suaminya sambil bergelayut manja. “Dia siapa?” Suara Anya hampir tenggelam.“Tentu saja calon istriku. Siapa lagi, kamu bisa melihat sendiri bagaimana mesranya kami sekarang,” balas Kev







