Rendra menunduk, napasnya mulai memburu. Riani, dengan gerakan tak sabaran membantunya untuk melepaskan satu-persatu kancing kemejanya.Keputusan di antara mereka dibuat bukan dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan yang mungkin akan disesali. Rendra perlahan-lahan mulai menunduk, bibirnya menemukan leher Riani. Meninggalkan jejak kemerahan di sana.Bukan dengan kelembutan seperti pada Dara, tapi dengan sebuah intensitas yang dipenuhi oleh kebingungan, amarah yang tertahan, dan sebuah kebutuhan mendesak untuk menghilangkan semua pikiran. Napasnya mulai memburu, panas, bertolak belakang dengan ketenangan Riani yang justru menjadi pemicu.Riani, yang biasanya pasif dan terukur, kali ini merespons dengan gerakan aktif yang tak sabaran. Tangannya yang biasanya dingin, kini hangat dan terburu-buru. Dia membantu Rendra, jari-jemarinya yang lincah membuka satu-persatu kancing kemeja Rendra dengan efisiensi yang mencengangkan, seolah ingin segera
Last Updated : 2026-01-04 Read more