Tubuh A Ruo sudah basah oleh peluh. Punggungnya kaku dan matanya terasa pedih karena harus terus fokus pada pembuluh darah halus di sekitar jantung Yanzuo. Rasa lelah yang teramat sangat mulai datang, tapi ia menolak untuk berhenti.Hingga akhirnya, A Ruo menangkap sebuah keanehan."Ketemu," bisik A Ruo dengan napas terengah-engah.Di antara jalinan pembuluh darah utama yang menempel pada dinding jantung Yanzuo, terdapat sebuah titik sebesar biji jagung yang memancarkan cahaya merah menyala. Titik itu berdenyut, sejalan dengan detak jantung Putra Mahkota. Titik api abadi itu yang bertugas menyebarkan hawa panas ke seluruh aliran darahnya.Dengan sangat berhati-hati, A Ruo menggunakan capit kuningan kecil untuk memisahkan titik api itu dari jaringan darah. Sekali tarik, titik merah bercahaya itu berhasil diangkat. A Ruo segera meletakkannya ke dalam mangkuk."Syukurlah, selesai juga," gumam A Ruo lega.Dengan tubuh yang mulai lemah, ia mengambil benang usus domba dan jarum melengkung.
Read more