로그인Satu bulan kemudian ...Hari perayaan yang dinanti-nanti oleh seluruh Dinasti Hanlu akhirnya tiba. Langit ibu kota tampak cerah, dihiasi ribuan lampion lambang kebahagiaan yang melayang tinggi. Namun, pemandangan unik dan tak biasa terjadi di dalam Aula Utama.Tradisi kekaisaran mewajibkan sepasang pengantin mengenakan sutra berwarna merah menyala sebagai simbol keberuntungan dan kebahagiaan. Namun, Pangeran Shen Yuan dan A Ruo justru mendobrak tatanan tersebut.Keduanya melangkah berdampingan mengenakan jubah pernikahan berwarna putih keabu-abuan yang tak kalah mewah. Jubah sutra A Ruo disulam dengan benang perak bermotif bunga salju, sementara jubah Shen Yuan memiliki sulaman serigala es yang tampak hidup.Berbeda dengan Yanzuo yang telah berubah menjadi manusia biasa, tidak demikian dengan Shen Yuan. Ia tetap sama seperti dulu, hingga membuat suhu di dalam aula terasa dingin.Udara musim semi berubah menjadi sedingin puncak pegunungan utara. Setiap embusan napas para tamu undangan
A Ruo mengetuk pintu kamar Kediaman Putri Mahkota dengan perlahan. Tak lama berselang, pintu terbuka. Ye Lin berdiri di depan pintu dengan wajah pucat dan mata bengkak setelah menangis cukup lama. Namun, saat melihat siapa yang datang, ia mempersilakan A Ruo untuk masuk.Keduanya duduk saling berhadapan di dekat jendela. Suasana di antara mereka awalnya hening, sebelum akhirnya A Ruo mulai berbicara."Putri Makhkota, apa Pangeran Yanzuo sudah memberitahumu tentang keadaannya duar hari terakhir ini?" tanya A Ruo sambil bertopang dagu.Ye Lin hanya menggeleng. "Aku belum berbicara dengannya lagi. Bahkan aku melarangnya mendekati kamarku."A Ruo menghela napas panjang. "Aku baru saja melakukan operasi besar dadakan padanya. Pangeran Yanzuo memaksa Pangeran Shen Yuan untuk membelah dadanya. Saat Pangeran Shen Yuan tak sanggup, mereka memaksaku untuk menyelesaikan pemotongan jantung terbuka itu." A Ruo menggunakan kata-kata yang bisa dipahami orang di masa lalu.Mata Ye Lin sedikit melebar
Tubuh A Ruo sudah basah oleh peluh. Punggungnya kaku dan matanya terasa pedih karena harus terus fokus pada pembuluh darah halus di sekitar jantung Yanzuo. Rasa lelah yang teramat sangat mulai datang, tapi ia menolak untuk berhenti.Hingga akhirnya, A Ruo menangkap sebuah keanehan."Ketemu," bisik A Ruo dengan napas terengah-engah.Di antara jalinan pembuluh darah utama yang menempel pada dinding jantung Yanzuo, terdapat sebuah titik sebesar biji jagung yang memancarkan cahaya merah menyala. Titik itu berdenyut, sejalan dengan detak jantung Putra Mahkota. Titik api abadi itu yang bertugas menyebarkan hawa panas ke seluruh aliran darahnya.Dengan sangat berhati-hati, A Ruo menggunakan capit kuningan kecil untuk memisahkan titik api itu dari jaringan darah. Sekali tarik, titik merah bercahaya itu berhasil diangkat. A Ruo segera meletakkannya ke dalam mangkuk."Syukurlah, selesai juga," gumam A Ruo lega.Dengan tubuh yang mulai lemah, ia mengambil benang usus domba dan jarum melengkung.
Shen Yuan dan A Ruo mendarat di Kediaman Pangeran Salju. Mereka mendorong pintu kamar dan masuk ke dalam.Pemandangan pertama yang dilihat A Ruo adalah Pangeran Yanzuo yang terbaring di atas ranjang, dadanya yang bidang berlumuran darah segar bercampur lelehan air akibat hawa panas tubuhnya sendiri.Putra Mahkota yang biasanya tak terkalahkan itu kini meringis menahan sakit, urat-urat di lehernya menonjol, dan napasnya memburu menciptakan hawa panas di udara. Darah terus merembes dari luka sayatan tipis tetapi dalam peninggalan belati es Shen Yuan.Melihat keadaan itu, A Ruo langsung mengambil alih sebagai seorang dokter."Kunci pintunya dari dalam, Pangeran! Jangan biarkan satu orang pun masuk atau mengintip. Operasi ini tidak boleh diganggu!" perintah A Ruo tegas.Shen Yuan segera mengunci pintu rapat-rapat. Kini, di dalam kamar yang luas itu, hanya tersisa mereka bertiga. Suasana terasa sangat tegang.A Ruo meletakkan kotak obat kayu tiga tingkat miliknya di atas meja di samping ra
Kesibukan dan kemeriahan mulai menyelimuti istana, menjelang perayaan pernikahan agung Pangeran Shen Yuan dan A Ruo. Namun, berbanding terbalik dengan kebahagiaan yang akan datang, kebingungan justru melanda hati Putra Mahkota.Shen Yanzuo mematung di balik pintu kamar istrinya yang tertutup rapat. Keangkuhannya sebagai pangeran harus sirna di hadapan kenyataan. Kata-kata Ye Lin yang diucapkan dengan sangat keji beberapa hari lalu terus berputar di kepalanya. Seperti sebuah kutukan yang diarahkan padanya."Sampai mati pun ... dia tak akan pernah bisa menyentuh anak ini."Kalimat yang bukan sekadar ancaman dari seorang wanita yang sedang berduka. Ada kenyataan mengerikan di baliknya.Yanzuo tahu tubuhnya sangat panas. Jika ia memaksakan diri menyentuh Ye Lin yang sedang lemah, apalagi menyentuh bayi yang baru lahir nanti, apinya bisa membakar mereka tanpa sengaja.Selama beberapa hari terakhir, Yanzuo sudah berusaha menurunkan egonya. Ia mencoba mendekati Ye Lin, merendahkan suara sert
Tiga bulan telah berlalu sejak malam berdarah itu.Dinasti Hanlu perlahan bangkit dari kehancurannya. Puing-puing istana yang hangus terbakar mulai dibangun kembali oleh ribuan pekerja. Duka mendalam yang menyelimuti rakyat mulai memudar seiring berjalannya waktu.Meski bekas luka itu tak akan pernah benar-benar hilang, air mata perlahan surut dan gelak tawa kembali terdengar di ibu kota.Di dalam istana, Shen Yuan dan Yanzuo bekerja keras membantu Kaisar Shen Hong menata ulang tatanan pemerintahan yang sempat kacau balau. Namun, pemandangan unik selalu terjadi setiap kali kedua pangeran itu berada di aula yang sama.Mereka berdua terpaksa berdiri dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Kekuatan di dalam tubuh mereka terus bertolak belakang, menciptakan percikan energi yang berbahaya jika keduanya berdiri terlalu dekat.Sayangnya, pemulihan dinasti itu tidak berbanding lurus dengan keadaan di dalam Kediaman Pangeran Pertama.Di dalam kamar yang diterangi nyala lilin, Ye Lin duduk
Jelang malam hari, suasana di dalam kediaman utama Ratu Agung justru terasa sangat mencekam dengan cara yang berbeda.Pintu kayu besar di kamar Ratu Agung didobrak hingga terbuka dengan kasar. Seorang komandan Pasukan Phoenix menerobos masuk dengan napas memburu.Ia mengabaikan segala tata krama is
Setelah meninggalkan perjamuan pernikahan yang sangat sepi itu, Shen Yuan dan A Ruo kembali ke Paviliun dengan langkah cepat. Waktu mereka tidak banyak.Ketika sampai di dalam kamar yang mulai dingin, A Ruo sibuk memasukkan beberapa jubah tebal dan perlengkapan medisnya ke dalam buntelan kain, seme
"Malam ini? Badai di luar sedang ganas, dan kau baru saja melihat kakakmu menjadi Putra Mahkota. Kenapa terburu-buru sekali kembali ke tanah buangan yang beku dan dingin itu?"Shen Yuan menoleh ke arah A Ruo, lalu meraih tangan gadis berpipi tembem itu dan menggenggamnya dengan erat. Tinda
Pintu Aula Berkat Dari Surga terbuka, Ye Lin masuk didampingi beberapa dayang. Mereka semua bungkam soal tragedi di luar tembok istana.Jenderal perempuan itu melangkah masuk dengan sisa-sisa tenaga dan harga dirinya. Wajah Ye Lin tetap sedingin es. Tidak ada air mata yang tersisa, hanya p







