Ketegangan di rumah itu akhirnya pecah.Bukan oleh teriakan atau tangisan histeris, melainkan oleh suara benda jatuh yang memekakkan telinga, diikuti keheningan mencekam yang membuat semua orang membeku.Sofia berdiri di tengah ruang keluarga. Napasnya memburu, dadanya naik-turun cepat seolah paru-parunya dipaksa bekerja melampaui batas. Matanya memerah; bukan karena air mata, melainkan karena pikirannya dipaksa berlari terlalu jauh, terlalu cepat, menembus kabut ingatan yang selama ini menutupinya.“Berhenti… berhenti!” bentaknya tiba-tiba, meski tak ada seorang pun yang sedang bicara padanya.Charlotte yang berdiri beberapa langkah darinya tersentak. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar hebat. Ia menoleh ke arah Tonny, mencari perlindungan seperti biasanya. Namun kali ini, Tonny tidak langsung mendekat. Pria itu justru mengamati Sofia dengan mata menyipit—dingin, penuh perhitungan, seolah sedang menakar seberapa jauh kerusakan yang terjadi.“Mi, tenang dulu,” Charlotte mencoba men
Last Updated : 2026-01-19 Read more