Charlotte melempar gelas ke lantai. Suara benturan keras terdengar nyaring didalam ruangan yang sudah sangat berantakan tersebut. Wajah merah oleh amarah yang tak lagi bisa disembunyikan. Urat-urat halus diwajahnya tampak timbul. Dadanya naik turun, napasnya berat, “Ini semua gara-gara Alicia!” teriaknya. “Perempuan sialan itu! Datang-datang langsung merusak segalanya!”Tonny berdiri tidak jauh darinya. Tangannya terangkat pelan, bukan untuk menghentikan, melainkan seperti seseorang yang sedang berusaha menenangkan seekor hewan yang terluka—hati-hati, sabar, penuh perhitungan.“Tenang dulu, Char,” katanya lembut. Terlalu lembut untuk ukuran seorang ayah. “Kalau kamu terus berteriak seperti ini, Mami bisa dengar.”“Mami?” Charlotte tertawa sinis. Tawanya pecah, retak, dan beracun.“Sejak kapan dia peduli sama aku lagi, hah? Mami bahkan tidak mau menatapku!”Ia menunjuk ke arah lantai atas, ke kamar Sofia, seolah Alicia berada tepat di balik dinding itu.“Aku ini siapa? Aku ini apa
더 보기