Kepala Devan berdenyut hebat.Bukan sakit yang tiba-tiba, melainkan nyeri yang menumpuk—seperti tekanan yang sejak pagi dipaksa ia tahan. Ia bersandar di kursi kerjanya, satu tangan menekan pelipis, mata terpejam lama.Frustrasi.Itu kata yang paling tepat.Ponselnya tergeletak di atas meja, layar sudah gelap, namun bayangan percakapan dengan Vivian masih terus berputar di kepalanya. Kata-kata yang berputar-putar, tuntutan yang tak masuk akal, sikap seolah ia sedang dipermainkan.Ia merasa seperti sedang dikepung.Bram mengetuk pintu lagi dan masuk pelan. “Pak, makan siang sudah disiapkan. Bapak mau…?”Devan membuka mata, lalu menggeleng lemah. “Tidak.”“Bapak belum makan sejak pagi.”“Tidak lapar.”Itu bukan bohong. Perutnya memang tidak meminta apa-apa—justru sebaliknya. Ada rasa perih yang menusuk perlahan, seperti asam lambung yang naik karena emosi dan stres.Devan berdiri, berjalan ke jendela, menatap ke luar tanpa fokus.“Pak, wajah Anda pucat,” Bram mencoba lagi. “Mungkin seti
최신 업데이트 : 2026-01-30 더 보기