Devan mematikan televisi. Semakin lama ia melihat berita tentang Vivian, membuat dadanya semakin sakit. Ruangan kembali sunyi, hanya tersisa suara AC yang berdengung pelan. Tatapannya beralih pada Alicia—kali ini tidak hangat, tidak menggoda, melainkan serius. Terlalu serius.“Licia,” ucapnya pelan, namun tegas. “Apa kamu kenal Thomas?”Alicia yang sedang merapikan sendoknya terhenti.Ia menoleh perlahan. Ada sesuatu di wajah Devan yang membuatnya otomatis duduk lebih tegak. Bukan kecurigaan kosong—melainkan intuisi seorang pria yang sudah lama hidup di dunia penuh intrik.“Kenal?” ulang Devan.Alicia mengernyit kecil. “Kenal… dalam arti apa?”“Dalam arti,” Devan berhenti sejenak, memilih kata-katanya, “pernah bertemu, pernah berbicara, atau pernah bersinggungan dengan hidupmu. Sekecil apa pun.”Alicia terdiam.Devan menghela napas, lalu mengambil ponselnya. Beberapa ketukan cepat di layar, lalu ia memutar layar ke arah Alicia.Sebuah foto terpampang jelas.Seorang pria dengan setela
Last Updated : 2026-02-20 Read more