Alicia tidak bisa diam.Ia duduk di tepi ranjang—lima detik. Berdiri. Melangkah ke jendela. Berhenti. Menoleh ke pintu. Kembali duduk. Jemarinya saling bertaut, lalu terlepas. Napasnya pendek-pendek, seolah udara di kamar itu terlalu tipis untuk dihirup.“Berhenti mondar-mandir,” suara Devan akhirnya terdengar.Datar. Dingin.Tapi entah kenapa… menenangkan.Alicia berhenti di tempat. Menoleh pelan. “Aku… nggak bisa.”Devan menghela napas, bangkit dari kursi. Langkahnya pelan, terukur, seolah ia sedang menahan sesuatu di dalam dirinya sendiri. Ia menunjuk kursi di depan meja.“Duduk,” katanya singkat. Lalu menambahkan, lebih rendah, “Kalau kamu terus jalan seperti itu, aku yang nggak bisa mikir.”Alicia mengernyit. “Kenapa?”“Karena kamu bikin satu kamar ini kelihatan seperti bom waktu,” jawabnya ringan, tapi tatapannya serius. Alicia akhirnya duduk. Bahunya masih tegang, tapi kakinya berhenti bergerak.Di seberangnya, Devan kembali duduk. Punggungnya tegak, rahangnya mengeras. Ia tam
Last Updated : 2026-02-16 Read more