Pintu ruang direksi terbuka tanpa ketukan. Devan yang sedang menandatangani berkas langsung mengangkat kepala. Tangannya berhenti di udara—sepersekian detik saja—namun cukup untuk menunjukkan keterkejutannya. Thomas. Aura pria itu memenuhi ruangan seperti badai yang sengaja dilepas. Tatapannya tajam, dingin, dan langsung mengunci Devan seolah ia adalah terdakwa. Namun hanya sepersekian detik. Devan segera meletakkan pena, bangkit dari kursinya dengan sikap profesional yang nyaris sempurna. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja didatangi tanpa janji. “Pak Thomas,” ucapnya datar. “Kedatangan Anda… tidak biasa.” Thomas tersenyum tipis. Senyum tanpa kehangatan. “Aku tidak datang untuk berbasa-basi.” Ia melangkah masuk lebih jauh, tidak menunggu dipersilakan duduk. Anak buahnya tetap berdiri di dekat pintu, berjaga seperti bayangan. “Di mana Alicia?” Pertanyaan itu jatuh begitu saja—langsung, keras, tanpa pembuka. Ruangan mendadak terasa lebi
Last Updated : 2026-03-02 Read more