“Aku… tidak perlu menceraikannya?”Suara Devan terdengar pelan, seolah ia sendiri masih mencoba mencerna kenyataan yang baru saja ia dengar.Ia masih duduk di kursi kerjanya, punggung bersandar pada sandaran kursi kulit hitam yang besar. Tatapannya kosong beberapa detik, sebelum akhirnya kembali fokus pada Bram.Bram menggeleng dengan tegas.“Tidak, Bos.”Ia membuka salah satu map yang tadi dibawanya dan mendorongnya sedikit ke depan meja.“Saya sudah memeriksa ke seluruh data kantor urusan agama, termasuk arsip lama. Tidak ada satu pun catatan pernikahan atas nama Tuan Devan Alexander dan Vivian.”Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih jelas.“Secara hukum, status Anda masih single.”“Artinya,” Bram menegaskan lagi, “Anda belum pernah menikah.”Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi.Beberapa detik berlalu tanpa suara.Luna menatap putranya dengan tajam, mencoba membaca ekspresi di wajah Devan.Di satu sisi, kabar itu seharusnya kabar baik.Tidak ada ikatan hukum.
Read more