Sofia menatap Arabella yang naik ke atas tempat tidur. Gadis kecil itu menata bantalnya dengan rapi dan menunduk, sebelum akhirnya melepaskan rambut palsunya.Sekejap, Sofia terdiam. Rambut hitam yang panjang, berkilau, dan tampak sangat cantik ternyata… bukan rambut aslinya.“Kata Daddy,” suara kecil Arabella terdengar sambil terkekeh ringan, “walaupun kepalaku botak, tapi aku tetap cantik. Hanya saja kalau ketemu orang-orang, aku… tetap saja nggak percaya diri.”Sofia hanya bisa menatap gadis kecil itu. Ada kesedihan yang terselip di balik tawa polosnya—seakan penderitaan yang ia rasakan tidak seberat itu. Hati Sofia sesak, terasa sakit seperti ditusuk duri.Thomas tidak ikut masuk. Ia berdiri di luar kamar, seperti seorang pengawas yang penuh perhatian, mengamati interaksi Sofia dengan putrinya.Sofia tersenyum lembut, kemudian duduk di samping Arabella. “Iya kamu memang sangat cantik. Rambut mu juga sebentar lagi akan kembali tumbuh. Rambut baru itu akan jauh lebih cantik. Hitam,
Magbasa pa