Tonny terbaring sendiri di ruang rawat. Sunyi. Hanya suara mesin medis yang sesekali berbunyi pelan, mengisi kekosongan di ruangan itu. Sinta tidak ada. Wanita itu pergi—menjual perhiasan demi biaya pengobatannya. Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang perawat sempat melirik ke dalam, sebelum akhirnya membiarkan seseorang masuk. Charlotte. Langkahnya ringan, namun raut wajahnya tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu di sana— antara enggan… dan terpaksa. Tatapan Tonny langsung mengarah padanya. Dalam diam— ada sesuatu yang bergerak di dalam hatinya. Bahagia? Mungkin. Namun lebih besar dari itu— amarah yang tertahan. “Sudah selama ini aku dirawat di sini,” ucapnya datar, suaranya berat, “kenapa baru sekarang kamu datang?” Charlotte menghela napas kecil, seolah sudah menyiapkan jawabannya. “Aturan rumah sakit,” katanya santai, “pasien hanya boleh ditemani satu orang keluarga. Aku tidak mungkin di sini.” Alasan yang terdengar rapi. Namun tidak cuk
Magbasa pa