Malam semakin larut saat Andra duduk di tepi ranjang paviliun, tempat Sri masih dalam masa pemulihan. Cahaya lampu tidur yang temaram membiaskan bayangan mereka di dinding, menciptakan suasana yang intim namun sarat akan rahasia gelap. Dengan suara rendah yang penuh kepuasan, Andra menceritakan segalanya, tentang surat anonim Bi Minah yang berhasil ia gagalkan, ancaman yang ia berikan pada pelayan tua itu, hingga keberhasilannya mendapatkan tanda tangan Sarah di atas dokumen-dokumen kosong. "Segalanya sudah hampir selesai, Sri," ucap Andra sambil menggenggam tangan Sri, matanya berbinar dengan kegilaan yang ia sebut sebagai cinta. "Semua aset, rumah ini, saham perusahaan... sebentar lagi semuanya akan berpindah ke namaku. Sarah tidak akan punya apa-apa lagi. Kita akan bebas. Kita akan memulai hidup baru tanpa ada yang menghalangi." Sri terdiam, matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat. Ia benar-benar terkejut. Ia tahu Andra adalah pria yang licik, namun ia tidak me
Read more