Sebelum Kieran memutuskan untuk mengungkap semuanya. Ia juga mengalami perdebatan dengan Siti. Pagi kemarin, sebelum mereka akhirnya ke Haul Fashion, Siti sudah seperti raga tanpa nyawa. Lemas dalam melakukan apapun, dan menatap kosong ke arah acak. "Makan sarapanmu, Sayang. Jangan cuma diaduk," suara berat Kieran memecah keheningan. Kieran duduk di hadapannya, terlihat segar dengan kemeja kerja yang sudah rapi, seolah badai berita di luar sana tidak mempengaruhinya sama sekali. "Mas... sampai kapan aku harus libur? Teman-temanku di kantor kena imbasnya, dan aku merasa bersalah," bisik Siti lirih. Kieran meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap Siti dengan tatapan yang dalam namun datar. "Siti, aku sudah memikirkannya. Mungkin ini saatnya kamu berhenti." Siti tersentak, sendok di tangannya berdenting pelan saat menyentuh piring. "Berhenti? Maksud kamu... resign?" "Ya. Resign aja," jawab Kieran enteng, seolah menyuruhnya mengganti baju. "Citra kamu sebagai host sudah te
Read more