Jessie hampir saja tersedak kopinya. Ia berdehem kecil, mencoba tetap tenang. "Ah, benarkah, Bu? Mungkin karena tidurku cukup saja."Bu Ratih tertawa kecil, sengaja melirik ke arah kamar Jessie yang pintunya masih sedikit terbuka, memperlihatkan tanda-tanda kehidupan yang lebih dari satu orang di dalamnya. "Tidur cukup atau karena tidurnya sekarang sudah ada yang menemani?” goda Bu Ratih semakin frontal. “Saya perhatikan, sekarang saya jadi lebih jarang membereskan kamar sebelah ya, soalnya selimutnya selalu masih rapi terus setiap pagi." Bu Ratih tersenyum puas seolah menggoda pengantin baru. Padahal mereka sudah menikah beberapa bulan yang lalu.Pipi Jessie seketika merona merah padam. Ia menunduk dalam, pura-pura sangat sibuk dengan potongan pepaya di piringnya. "Bu Ratih bisa saja..." gumamnya pelan, tidak berani mengangkat wajah.Jacob, yang sejak tadi tampak fokus membaca laporan di tabletnya, akhirnya bereaksi. Ia meletakkan tabletnya di meja, namun wajahnya tetap datar tanpa
最終更新日 : 2026-01-05 続きを読む