Aya memeluk sahabatnya itu. "Aku yakin Mas Niko-mu pasti akan segera sembuh. Kalian juga pasti akan hidup bahagia.""Aamiin, Ay. Makasih."Kembali lagi pada Putra dan Niko, keduanya tampak begitu akrab."Oh iya, Om Niko harus lihat Lili!""Lili siapa?""Kucing Putra yang sudah kaya adek sendiri. Dia sudah besar sekarang!" Putra menarik tangan Niko menuju halaman belakang."Jangan lari-lari, Sayang!" seru Aya memperingatkan."Iya, Bunda. Ayo, Om!"Gina dan Aya hanya memerhatikan dari kejauhan, membiarkan mereka bermain, sementara para wanita itu berbincang di paviliun kecil.Di halaman belakang yang dipenuhi dengan tanaman dan bunga, Putra memanggil Lili, kucing putih kesayangannya. Kucing itu mengeong manja, melompat-lompat mengejar bola bulu yang dilemparkan Putra. Niko tertawa kecil, meski sesekali ia harus menutup mulutnya karena batuk yang tertahan."Dia sangat aktif, ya?" ujar Niko terdengar lemah."Iya, Oma. Ayah bilang Lili harus rajin olahraga supaya tidak malas seperti kucing
Read more