"Tapi...." Niko tampak ragu."Pergilah, Nik. Bawalah Gina bersamamu. Aku tunggu kabar kesuksesan operasimu di sini. Tenang saja, aku baik-baik saja. Tapi... kemungkinan aku benar-benar akan melawan ayah dan kakakmu," ucap Ibra. Untuk pertama kalinya pria itu bicara panjang lebar dengannya."Baik, Kak. Aku mengerti. Tolong buat mereka mendapatkan hukuman yang setimpal. Aku tidak akan protes. Tapi... aku mohon jangan sakiti mereka. Biarkan polisi yang memberi mereka hukuman," ucap Niko meminta."Ya. Aku mengerti. Aku akan pastikan mereka dipenjara sesuai dengan perbuatan mereka," sahut Ibra setuju."Terima kasih, Kak." Niko tersenyum."Tidak. Aku dan Aya lah yang harusnya berterima kasih padamu."Setelahnya, panggilan pun berakhir. Niko menatap layar ponselnya yang kembali berwarna hitam. Pria itu pun kembali menatap Gina."Maaf, Yang. Aku terpaksa kasih tahu Aya soal operasimu. Aku hanya nggak mau operasimu tertunda," cicit Gina merasa bersalah.Niko diam. Tatapannya lurus tertuju pada
Read more