Wanita itu berhasil keluar. Memesan ojek online untuk kembali ke perusahaan dan mengambil motornya di parkiran. Aya berlari mengabaikan rasa perih di area pangkal pahanya yang dipaksa berlari cepat. Napasnya tersengal-sengal, dadanya terasa terbakar. Tujuannya siang itu hanya satu, yaitu menjemput Putra yang masih berada di sekolah. Bahkan saat menilik ponselnya, ada beberapa pesan dan juga panggilan tak terjawab.Aya bergegas menuju ke sekolah putranya dengan motor matic miliknya. Bahkan ia tidak peduli dengan kecepatan yang di atas rata-rata yang bisa membahayakan nyawanya.Saat ia tiba di depan sekolah, gerbang sudah hampir ditutup. Di pojok teras sekolah, duduk seorang bocah laki-laki dengan tas punggung yang tampak terlalu besar untuk tubuh kecilnya."Bunda!" Putra berdiri, wajahnya yang tadi murung langsung cerah. Di sampingnya, seorang guru berdiri dengan wajah prihatin."Maafkan saya, Bu Guru... Maaf, saya terlambat menjemput Putra, maaf," ucap Aya terbata-bata sambil membung
Terakhir Diperbarui : 2026-01-15 Baca selengkapnya