"Maaf, Kak. Untuk pil KB apa pun, kami butuh resep resmi. Terutama jika Kakak belum pernah menggunakan sebelumnya," ucap apoteker muda dengan senyum profesional namun tegas."Tapi ini darurat," desak Aya, matanya mulai berkaca-kaca. "Apa tidak bisa sekali ini saja?""Maaf sekali, tidak bisa. Apa lagi kalau disalahgunakan."Apotek kedua dan selanjutnya yang ia temui lebih modern, namun hasilnya tetap sama. Aya keluar dari apotek terakhir dengan kaki yang terasa lemas. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Ia sudah terlalu lama meninggalkan Putra sendirian. Jika ia terus berkeliling tanpa hasil, Putra akan cemas.Dalam perjalanan pulang, pikiran Aya semakin kalut.'Gimana kalau aku hamil lagi?' gumamnya dengan perasaan cemas.Dulu, saat mengandung Putra, ia harus menanggung beban itu sendirian. Ia harus bersembunyi menutupi masa lalunya dan bekerja serabutan dengan perut buncit, hanya untuk melindungi darah daging Ibra yang bahkan tidak tahu keberadaan anaknya. Membayangkan harus mel
Terakhir Diperbarui : 2026-01-11 Baca selengkapnya