Samuel menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menarik napas panjang, mencoba menata wajahnya sebelum kembali masuk ke dalam ruang perawatan. Di dalam sana, Aya sudah berdiri tegak, meski wajahnya masih pucat."Pak Sam, saya sudah selesai. Tolong, antar saya ke rumah Pak Ibra sekarang," pinta Aya dengan nada memohon.Samuel terdiam. Ia menatap secarik kertas yang tadi sempat ia berikan pada Aya, yang kini ada di tangannya. "Maafkan aku, Aya.""Kenapa?" Jantung Aya berdegup kencang. Firasat buruk mulai merayapi benaknya."Pak Ibra... dia baru saja memberi perintah tegas. Kamu tidak diizinkan mendekati rumahnya ataupun menemui Putra sampai batas waktu yang belum ditentukan. Setidaknya, seminggu dari sekarang," ucap Samuel bohong, atau lebih tepatnya menghaluskan perintah kejam Ibra."Satu minggu?" Suara Aya melengking kecil. "Pak, satu hari saja tanpa saya, Putra akan menangis ketakutan! Dia anak kecil, dia bukan barang yang bisa disimpan begitu saja!""Aku tidak bisa berbuat apa-ap
Terakhir Diperbarui : 2026-01-21 Baca selengkapnya