Pagi menyapa kediaman mewah Ibra dengan cahaya keemasan yang menembus jendela-jendela besar setinggi plafon. Bagi Aya, ini adalah pagi pertama ia terbangun di rumah orang lain. Kamar tamu yang ia tempati memang sangat luas, namun rasanya tetap sesak oleh ketidakpastian."Apakah ini keputusan yang baik, Tuhan...?" gumam Aya sembari menatap langit-langit kamar tersebut.Tok tok tokKetukan pintu membuyarkan lamunan Aya. Wanita itu terduduk, lalu segera turun dari tempat tidur dan merapikan kemeja yang ia kenakan.Saat membuka pintu, seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi tersenyum ramah padanya dengan beberapa pakaian."Selamat pagi, Nyonya. Saya Tina, salah satu pelayan di sini," sapanya hangat namun tetap formal. "Tuan Ibra meminta saya menyiapkan pakaian ganti untuk Anda gunakan pagi ini sebelum berangkat ke butik," lanjutnya."Ah... Iya... Terima kasih," sahut Aya yang merasa malu karena hanya mengenakan kemeja kebesaran Ibra.Tina segera meletakkan setelan blus sutra berwar
Terakhir Diperbarui : 2026-01-25 Baca selengkapnya