Angin pedesaan berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa hujan semalam. Mobil mewah hitam yang dikemudikan Santo akhirnya berhenti di sebuah jalan setapak yang hanya cukup untuk satu kendaraan. Di hadapan mereka, hamparan nisan tua menyambut dengan keheningan yang menyesakkan."Kita udah sampai, Sayang," bisik Aya pada Putra.Aya menarik napas panjang. Ia menggenggam tangan kecil Putra, bocah laki-laki berusia lima tahun yang mewarisi mata tajam ayahnya. Di belakang mereka, Ibra dengan setelan kemeja mahal yang tampak sangat kontras dengan lingkungan pedesaan ikut melangkah turun dengan wajah datar tanpa ekspresi.Mereka bertiga melangkah menuju dua gundukan tanah dengan nisan kayu yang sudah lapuk bertuliskan nama kedua orang tua Aya. Aya bersimpuh, jemarinya mengusap nisan sang ibu yang telah lama ia tinggalkan demi mencari penghidupan di kota besar dan juga menjaga nama baik kedua orang tuanya yang telah tiada karena kehamilannya. Air matanya pun luruh t
Terakhir Diperbarui : 2026-02-07 Baca selengkapnya