Aya terdiam. Ia menatap Via, perempuan yang dulu mencuri tugas-tugasnya hanya demi mendapatkan nilai baik dengan cara yang salah. Bahkan dulu, Via sering melakukan kecurangan dan berbohong padanya. Kini, Via bekerja di bank daerah dan merasa dirinya adalah ratu di desa itu. Sementara Aya yang lebih pintar darinya, bahkan harus merasakan pahitnya kehidupan."Bawa apa ini? Oleh-oleh dari kota, ya? Kok bentuknya anak kecil?" Via menyindir Aya lagi sembari menunjuk ke arah Putra."Ini anakku, Via," jawab Aya berusaha tetap tenang."Anak?" Via sengaja mengeraskan suaranya."Kapan nikahnya? Kok nggak ada hajatan? Jangan-jangan benar kata orang-orang... kamu di kota cuma jadi simpanan atau malah... Upss. Maaf." Via tertawa kecil, memicu tawa dari beberapa warga lain yang mulai berkerumun mendekati mereka."Jaga mulutmu, Via," ucap Aya mulai dengan kedua alis saling bertaut."Kenapa? Tersinggung, ya? Wajar dong kami curiga. Kamu hilang bertahun-tahun, ibumu sakit sampai meninggal pasti karena
Read more