Share

Bab 282

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-04-29 12:32:08

Maya mengusap rambut Kara sekali lagi sebelum mengangkat tubuh kecil itu dengan hati-hati. Radit langsung berdiri dan membantu, mengambil selimut tipis dari sofa. Mereka berdua berjalan pelan ke kamar Kara, langkah mereka hampir tak bersuara di lantai kayu.

Kara menggeliat sebentar saat Radit menyelimutinya, tapi matanya tetap tertutup. "Arka..." gumamnya dalam tidur, suaranya kecil sekali.

Maya tersenyum tipis, mengecup kening putrinya. Radit mematikan lampu utama, hanya me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 288

    Radit duduk di meja makan dengan laptop terbuka, jarinya mengetik cepat sambil sesekali melirik ponsel. Maya berdiri di belakangnya, tangannya bertumpu di bahu suaminya, membaca draft perjanjian yang Pak Budi sudah kirimkan balik lewat email."Bagian klausul pertemuan ini cukup ketat," kata Maya pelan. "Hanya di tempat umum, maksimal dua jam, harus ada salah satu dari kita. Nggak ada chat langsung dengan Kara. Menurutmu mereka mau tanda tangan?"Radit menghela napas. "Kalau motif mereka benar-benar soal anak-anak, seharusnya iya. Tapi kalau ada yang lain... kita akan tahu dari reaksi mereka."Ia menekan tombol kirim. Email dengan draft perjanjian itu meluncur ke alamat Lena, dengan cc ke Alya dan Mira, plus Pak Budi sebagai saksi. Subjek email hanya satu kalimat, "Perjanjian Pengaturan Pertemuan dan Dana Pendidikan Kara & Arka"."Sudah terkirim," kata Radit. Ia menutup laptop dan memutar kursi menghadap Maya. "Sekarang kita tunggu."Maya mengangguk, tapi matanya tidak lepas dari layar

  • Godaan Mama Muda   Bab 287

    Radit terbangun sebelum alarm berbunyi. Jam di nakas menunjukkan pukul lima lewat empat puluh. Di sampingnya, Maya masih tidur, tapi alisnya sedikit berkerut, seolah mimpi buruk ikut menemani malamnya.Radit memandangi wajah istrinya sebentar, lalu bangun pelan-pelan. Ia tidak mau membangunkannya dulu. Hari ini terlalu penting untuk dimulai dengan kekhawatiran tambahan.Di dapur, udara pagi masih sejuk. Radit membuat kopi hitam pekat untuk dirinya sendiri, lalu duduk di meja makan sambil membuka ponsel. Ia mencari nomor pengacara yayasan yang pernah membantu kasus hak asuh Kara dulu, Pak Budi, pria paruh baya yang tenang dan teliti.Pesan singkat ia ketik, "Pak Budi, selamat pagi. Ada urusan mendesak soal hak asuh dan ancaman pencemaran nama baik. Bisa bicara pagi ini?"Pesan terkirim. Radit menyesap kopinya, rasa pahitnya cocok dengan suasana hatinya.Tak lama kemudian, Maya keluar dari kamar. Rambutnya diikat asal, mata masih agak bengkak karena kurang tidur. Ia tersenyum tipis saat

  • Godaan Mama Muda   Bab 286

    Makan malam berjalan seperti biasa. Kara bercerita panjang lebar tentang teman sekolahnya yang baru dapat adik bayi, tentang gurunya yang lucu, dan betapa ia ingin punya adik laki-laki yang bisa dia ajari main mobil-mobilan.Radit dan Maya mendengarkan, sesekali tersenyum, mengangguk, dan memberi respons yang tepat. Tapi di balik setiap senyum, ada beban yang tak terucapkan.Setelah makan, Kara mandi, lalu mereka bertiga duduk di karpet ruang keluarga lagi. Kara memaksa main "rumah-rumahan" dengan boneka dan mobil-mobilan. Radit jadi ayahnya, Maya jadi ibunya, dan Kara jadi kakak yang super keren. Tawa kecil Kara memenuhi ruangan, tapi Radit merasa setiap tawa itu seperti pengingat yang menyakitkan, betapa rapuhnya kebahagiaan polos ini.Jam delapan lewat, Kara mulai menguap. Maya menggendongnya ke kamar, membacakan cerita pendek tentang kelinci yang mencari teman. Radit berdiri di ambang pintu, memandang istrinya yang duduk di tepi tempat tidur, suaranya lembut dan tenang seolah tida

  • Godaan Mama Muda   Bab 285

    Mobil melaju pelan di tengah kemacetan sore. Radit memegang setir dengan kedua tangan, tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya jauh sekali.Di sampingnya, Maya duduk diam, amplop cokelat fotokopian itu masih digenggam erat di pangkuannya. Udara AC terasa terlalu dingin, tapi tak satu pun dari mereka yang bergerak untuk mengubah suhunya.Sepuluh menit berlalu tanpa ada yang bicara. Hanya suara klakson samar dari luar dan deru mesin yang mengisi keheningan.Akhirnya Maya menghela napas panjang. Suaranya rendah, hampir seperti bicara pada diri sendiri. "Dia beneran bawa itu ke meja. Catatan pribadi. Foto. Transfer uang." Ia tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. "Seolah kita ini musuh yang harus dihancurkan."Radit melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. "Aku nggak pernah tidur lagi sama Alya setelah kita nikah, Maya. Itu bohong. Yang terjadi dulu... itu sebelum semuanya runtuh. Sebelum Singapura. Sebelum kamu."Maya mengangguk pelan. Ia tidak langsung menjawab.

  • Godaan Mama Muda   Bab 284

    Kafe itu berada di lantai dasar sebuah gedung perkantoran di pusat kota. Radit dan Maya tiba sepuluh menit lebih awal. Mereka memilih meja di sudut paling belakang, agak tersembunyi tapi tetap terang.Radit memesan dua iced americano, Maya memilih chamomile tea. Tangan mereka saling genggam di bawah meja."Kamu tenang?" tanya Radit pelan.Maya mengangguk, meski jarinya sedikit dingin. "Tenang. Tapi aku sudah siap kalau ada kejutan."Radit mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jarinya. "Apa pun yang mereka bilang, kita dengar dulu. Jangan langsung emosi."Pintu kafe berbunyi pelan. Alya masuk lebih dulu, diikuti Mira yang berjalan dengan langkah santai. Di belakang mereka, seorang perempuan tinggi dengan rambut hitam lurus sebahu muncul. Itu pasti Lena.Wajahnya tajam, mata sipit yang seolah bisa membaca orang dalam satu pandangan. Ia mengenakan blus krem sederhana dan celana hitam, tas kecil di bahunya.Mereka bertiga mendekat. Alya tersenyum tipis, Mira mengangguk sopan, semen

  • Godaan Mama Muda   Bab 283

    "Pagi," gumam Maya, tersenyum tipis saat melihat kopi. "Kamu sudah bangun duluan.""Susah tidur nyenyak," jawab Radit sambil meletakkan nampan di nakas. Ia duduk di tepi tempat tidur, menyerahkan cangkir ke Maya. "Pesan Lena masih nunggu. Kita balas sekarang?"Maya menyesap kopinya pelan, wajahnya langsung lebih segar. "Ya. Sekarang. Sebelum Kara bangun."Mereka duduk berdampingan di tempat tidur. Maya membuka ponsel, jarinya melayang di atas keyboard. Radit membaca dari samping."Aku tulis begini," kata Maya. Ia mengetik pelan,"Halo Lena. Ini Maya. Kami sudah bicara dengan Alya dan Mira. Kami bersedia bertemu untuk mendengar soal surat dari Victor. Tapi hanya aku dan Radit dulu, tanpa anak-anak. Tempat dan waktu kita yang atur. Tolong kasih tahu detail suratnya secara singkat dulu supaya kami bisa mempersiapkan."Radit mengangguk setuju. "Tambahin, kami harap ini bisa diselesaikan dengan baik demi Kara dan Arka."Maya

  • Godaan Mama Muda   Bab 212

    Keesokan paginya, Radit, Rara, dan Maya (yang terbang ke Jakarta semalam setelah panggilan video, mengambil cuti darurat) duduk di ruang rapat kecil dengan laptop, dokumen, dan kopi yang sudah dingin."Oke," kata Maya sambil membuka laptop. "Kita punya 36 jam sebelum batas waktu Bima. Kita butuh st

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Godaan Mama Muda   Bab 181

    Radit sudah menghabiskan empat malam berturut-turut tidur di kamar tamu. Dinda tidak mengusirnya lagi, tapi juga tidak mengizinkannya masuk ke kamar utama.Mereka hidup di rumah yang sama tapi seperti dua orang asing.Sarapan bersama tanpa bicara. Makan malam dengan ponsel masing-masing. Sesekali b

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Godaan Mama Muda   Bab 177

    Radit duduk di tepi ranjang hotel dengan kepala tertunduk, kedua tangannya menutupi wajahnya. Dia tidak tahu harus ke mana setelah keluar dari rumah. Tidak bisa ke rumah Mama Jessica, dia tidak siap menghadapi tatapan kecewa Mama. Tidak bisa ke kantor, sudah terlalu malam. Tidak bisa ke tempat tem

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Godaan Mama Muda   Bab 136

    Aku bangun dengan pikiran yang masih kalut. Cek satu miliar dari Bu Siska tersimpan di laci meja, tersembunyi di balik tumpukan buku lama.Aku ingin bicara dengan Pak Darma hari ini. Tapi tidak tahu bagaimana cara membuka pembicaraan tanpa terlihat tidak sopan atau tidak percaya.Mama Jessica sudah

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status