Bunyi logam keluar dari sarung batu hitam itu bukan bunyi biasa. Ia punya resonansi yang membuat udara di sekitar geladak bergetar sangat tipis, seperti permukaan air yang baru saja disentuh dari bawah. Di atas kapal pengintai Haneulguk, komandan bernama Park Sungmin menahan napasnya. Ia sudah melihat Pedang Matahari satu kali sebelumnya, di turnamen yang mengubah empat klan menjadi dua. Suara sarung pedang itu tidak berubah dalam sepuluh tahun. Seorang prajurit muda di sampingnya mundur satu langkah secara refleks. "Itu Pedang Matahari." "Diam dan catat semua yang kau lihat," kata Park Sungmin. "Ratu harus membaca laporan ini hari ini juga." "Kau sudah mengambil Jubah Bumi Bergetar di Ashgar," kata Bai Lie sambil matanya menatap punggung Rong Tian. "Artefak itu memilihmu. Aku melihatnya sendiri." Ia mengangkat Pedang Matahari ke posisi siap dengan gerakan yang sangat terukur. "Sekarang aku ingin tah
Baca selengkapnya