ログインRahang Bai Lie mengatup sangat keras.
Gigi bergesekan. Ia merasakan tekanan di pelipis kanannya.
"Aku tidak butuh pujianmu."
Suaranya keluar lebih keras dari yang ia mau.
Rong Tian hanya tersenyum lebih lebar.
"Lalu kenapa kau masih di sini?"
Bai Lie mengambil satu langkah ke depan. Kakinya mendarat keras di geladak kayu.
"Di Ashgar," katanya denga
Feng Wu Dalu menyambut dengan luka yang lebih rapi dan karena itu lebih busuk. Gerbang kota tetap buka, kereta dagang tetap lalu lalang, lonceng kecil di pelana kuda berdenting ringan, dan para pelayan di depan rumah-rumah kaya masih membungkuk dengan gerak terlatih.Namun di sela wangi teh mahal, kayu cendana, dan minyak rambut yang disisir rapi, Rong Tian menangkap bau jelaga halus yang dibawa angin dari kawasan rumah lelang. Kota ini tidak patah seperti Xing Chen. Kota ini menahan patahnya sambil terus memoles wajah.Rumah Lelang Langit Putih tampak tegak dari luar, tetapi jalur menuju ruang penerimaan dalam sudah cukup untuk memberi tahu Rong Tian seberapa dalam keruntuhan itu. Lampu-lampu diganti baru, papan retak ditutup kain, halaman disapu sampai tak menyisakan satu serpih arang, dan pelayan-pelayan muda dipaksa berjalan dengan langkah yang terlalu pelan, seolah kalau bunyi alas kaki mereka terlalu keras, seluruh bangunan akan ingat
Rong Tian menoleh ke altar kecil dekat tiang bendera. “Kalau kalian benar-benar tahu berat darah itu, altar arwah di sana tak akan dipasang serong ke arah timur.”Beberapa kepala spontan bergerak. Huo Jian ikut menoleh.“Asapnya lari ke sisi kiri, bukan lurus ke depan,” lanjut Rong Tian. “Kalian terlalu terburu-buru menenangkan perasaan sendiri sampai tak memberi arwah kaisar arah yang benar.”Tamparan itu tidak besar, tapi jatuh tepat ke muka orang-orang yang selama dua hari terakhir sibuk menjaga bentuk upacara agar kota tidak terlihat hancur. Gao Ren membeku, dan dua pejabat sipil di belakangnya otomatis menunduk, seolah takut tatapan orang lain menggeser aib itu ke wajah mereka juga.Huo Jian menarik napas panjang lewat hidung. “Kalau kau memang datang untuk mencegah kami bertindak bodoh, katakan bentuk bodohnya.”Rong Tian mema
Fajar di Xing Chen Dalu naik dari balik tembok istana dalam warna putih kotor, seperti kain duka yang dicuci terlalu sering. Kabut tipis menggantung di atas halaman latihan, menahan bau abu, darah lama, dan kemenyan pemanggil arwah yang belum habis dibakar di altar darurat dekat tiang bendera.Prajurit yang tersisa berdiri dalam barisan yang tak lagi rapi. Sebagian zirah mereka sudah diganti kain putih, sebagian lagi masih menyimpan jelaga di sela paku, dan pada wajah-wajah itu tampak jelas mana yang belum tidur, mana yang tidak berani menutup mata, dan mana yang terlalu malu untuk mengaku takut.Huo Jian berdiri paling depan. Zirah hitamnya sudah dibersihkan seadanya, tetapi bekas goresan di dada dan lengan kiri tetap dibiarkan terbuka, seolah ia sengaja memakainya sebagai pengingat bahwa negeri ini tidak jatuh karena satu malam sial, melainkan karena satu orang berhasil masuk ke pusat kekuasaan dan keluar dengan tenang.
Rong Tian mengangguk kecil. “Dan saat kau menoleh ke sana, ia sudah ada di panggung.”Pelayan itu menutup mata. Ia tak sanggup membantah.Kerumunan elit di ambang mulai gelisah. Mereka yang tadinya bicara paling nyaring kini justru sibuk menatap sisi-sisi ruangan yang baru saja ditelanjangi di depan mereka.Penilai artefak tua yang sombong itu berdeham, lalu mencoba menyelamatkan muka. “Sekalipun itu benar, apa gunanya sekarang. Sepatu itu sudah diambil.”“Baru sekarang kau menyebut sepatu,” kata Rong Tian.Tua itu membeku.Rong Tian menatap ke bawah panggung. “Jadi kau sudah tahu apa yang hilang sebelum anak keluarga Guo menyebutnya.”Ruangan seketika lebih sunyi daripada duka. Mata orang-orang langsung pindah ke penilai tua itu, dan rasa malu yang tadinya milik Guo Shengyin bergeser ke waj
Seorang penilai artefak tua langsung mencibir. “Lidah anak muda zaman sekarang memang lebih cepat daripada matanya.”Rong Tian menoleh sedikit ke arahnya. “Kalau matamu benar-benar cepat, kau tak akan masih berdiri di luar sambil menebak bentuk luka rumah lelang dari asap yang sudah dingin.”Wajah tua itu langsung kaku. Pedagang kaya di sebelahnya menahan senyum, lalu buru-buru menurunkannya saat sadar dirinya juga termasuk target penghinaan tak langsung itu.Guo Shengyin memandang Rong Tian lama sekali. Ada marah, ada malu, ada harapan yang tak sudi mengaku dirinya berharap.“Aku bawa kau masuk,” katanya akhirnya. “Kalau mulutmu cuma penuh asap, kau keluar dari sini dengan darah.”“Kalau mulutku benar,” jawab Rong Tian, “maka yang berdarah harusnya bukan aku.”Panggung utama Rumah Lelang
Pembaca tersayang,Aku ingin minta maaf atas kekeliruan pada update tiga bab sebelumnya karena terjadi pengulangan. Saat ini naskahnya sudah direvisi, tetapi masih menunggu proses penyelesaian dan persetujuan dari pihak editor, yang rencananya selesai pada hari Senin.Terima kasih karena sudah tetap sabar menunggu. Bab yang akan tayang nanti adalah kelanjutan dari bagian cerita yang masih menggantung, jadi semoga penantian ini bisa terbayar dengan lebih baik.Sekali lagi, maaf dan terima kasih atas pengertiannya.++++Feng Wu Dalu tidak menyambut dengan abu singgasana. Ia menyambut dengan jalan-jalan bersih, kereta mahal, jubah sutra, dan wajah-wajah rapi yang terlalu keras berusaha tampak tenang.Namun justru itu yang membuat luka kota ini terasa berbeda. Kalau Xing Chen berbau kematian dan kekalahan yang dipaksa ditelan, Feng Wu berbau teh mahal, minyak ram
Malam semakin dalam ketika Rong Tian melangkah keluar dari Paviliun Harta Karun Langit dengan tenang. Udara dingin menyapu wajah pucat, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore yang ringan.Langit gelap total tanpa bintang yang terlihat. Awan tebal menutupi bulan purnama, membuat kota tampak le
Pedang itu berhenti tepat di depan tenggorokan Lin Xuan dengan presisi sempurna. Jarak hanya satu inci yang sangat tipis, cukup dekat untuk merasakan hawa dingin dari logam tajam.Keringat dingin mengalir sangat deras di pelipis Lin Xuan. Matanya melebar penuh ketakutan yang sangat nyata dan melump
Rong Tian melangkah masuk melewati ambang pintu kayu phoebe merah dengan tenang tanpa tergesa. Jubah putih kasarnya yang sederhana dari kain katun kasar kontras tajam dengan kemegahan bangunan yang dihiasi ukiran naga berlapis emas, membuat beberapa kepala berjubah sutra menoleh dengan tatapan pena
Xiao Yu mengangkat alis tipis dengan ekspresi bingung yang jelas. Ia hanyalah orang biasa tanpa kultivasi sama sekali, bukan kultivator yang mengerti seluk beluk dunia jianghu yang rumit, hanya pelayan yang dilatih untuk melayani tamu kaya dengan sopan dan profesional.Ia tidak memahami makna "Tuan







