Ruang di depan cermin retak itu menutup tanpa bunyi keras, hanya satu getar tipis seperti permukaan air yang dipaksa menahan beban terlalu berat. Saat Rong Tian membuka mata, hawa lembap Shiqiao sudah hilang, digantikan udara kering yang bercampur abu, logam, dan sisa dupa upacara yang belum benar-benar mati.Ia berdiri di atas jalur batu yang mengarah ke gerbang kota Xing Chen, dan yang pertama menyambutnya bukan pasukan, melainkan bau negeri yang baru patah tulang. Abu menempel di sela batu, bendera setengah hangus menggantung lesu di atas gerbang, dan dua lentera istana yang semestinya menyala tegak kini hanya menyisakan rangka besi hitam.Di atas tembok, para penjaga menegang begitu melihat jubah putihnya. Mereka tidak segera membidik panah, tetapi tatapan mereka punya warna yang sama, yakni curiga, marah, dan lega karena akhirnya ada orang luar yang bisa mereka benci tanpa perlu menatap kegagalan sendiri.“Siapa kau?” bentak seorang perwira muda dari atas gerbang. “Sebutkan asal d
Magbasa pa