Shen Ruolan membalas tatapan itu dengan rahang kencang. “Kalau aku terus disimpan di sini, buat apa aku hidup.” “Untuk menjadi bukti,” kata Rong Tian tanpa meninggikan nada. “Bukti hidup lebih berharga daripada mayat yang berangkat dengan marah lalu tak pernah kembali.” Tak ada satu pun kata dalam kalimat itu yang lembut, tetapi justru karena benar, ia menghantam lebih dalam. Shen Ruolan menahan napas. Mo Lian memalingkan wajah sejenak, seolah perlu satu tarikan penuh agar tak meledak. Qingfeng yang sedari tadi diam akhirnya melangkah dari ruang belakang dengan mangkuk obat di tangan. “Dia benar,” katanya, suara tenangnya memecah benturan tanpa menghapus tepinya. “Orang luar sudah tahu dua saksi ada di bawah atap ini. Kalau kalian tiba-tiba hilang, mereka justru mendapat kepastian bahwa rumah obat sedang bergerak.” Mo Lian menoleh padanya de
Read more