Beranda / Zaman Kuno / Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa / Bab 102. Riak Tenang di Balik Taman Daisy

Share

Bab 102. Riak Tenang di Balik Taman Daisy

Penulis: nanadvelyns
last update Tanggal publikasi: 2026-01-29 00:03:52

Diana melangkah turun dari kereta kuda dengan gerakan anggun namun terukur.

Rok panjangnya menyapu anak tangga kayu yang telah dipoles rapi, sementara Embun dan dua pelayan lain segera mengikutinya dari belakang.

Hari ini bukan kunjungan biasa. Diana tahu betul, setiap langkahnya ke dalam harem Kekaisaran selalu menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar basa-basi antar wanita istana.

Hari ini ia akan mengunjungi Selir Shofia dan Karin bersamaan.

Itu saja sudah cukup untuk membuat bany
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Netty Tya
PermainanNYa seLir Shofia
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 245. Tawaran Aliansi

    Di tengah aula yang kini lengang setelah amukan Alon mereda, Isabella Sinclair berdiri tegak dengan keanggunan yang mengerikan. Ia mengusap punggung tangannya yang baru saja ditepis kasar oleh Denada, memijat jemarinya dengan gerakan tenang, seolah rasa perih itu hanyalah gangguan kecil yang tak berarti.Matanya yang biru pucat—warna yang selalu mengingatkan Denada pada langit musim dingin yang membeku—menatap sang Permaisuri dengan tatapan yang sangat dingin."Anda hanya akan bisa mati membusuk jika terus-menerus bersikap seperti ini, Yang Mulia Permaisuri," ucap Isabella. Suaranya rendah, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris keheningan.Denada, yang masih merasakan panas di pipinya akibat tamparan Alon, tersentak. Ia segera bangkit berdiri, meskipun tubuhnya masih gemetar karena gejolak emosi. Ia merapikan jubahnya yang berantakan dengan gerakan kasar, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa martabatnya yang baru saja diinjak-injak."Kau pikir dirimu pantas berbicara sepe

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 244. Uluran Tangan Tak Terduga

    "Apa yang kau lakukan, Isabella?" Tanya Alon tajam. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang bisa membuat siapa pun kehilangan nyalinya. "Kau berdiri membela wanita yang baru saja meracuni darah dagingku? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu karena terlalu lama mendekam di paviliun belakang?"Isabella tetap pada posisinya. Ia tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Perlahan, ia mendongak, menatap Alon dengan mata biru pucatnya yang jernih—tatapan yang selalu berhasil meluluhkan kekerasan hati Alon karena kemiripannya dengan Diana. Sementara itu, Denada yang berada di sebelahnya hanya bisa menunduk dalam, rambutnya yang berantakan menutupi wajahnya yang membengkak akibat tamparan tadi.Isabella mengerutkan keningnya tipis, ekspresinya berubah menjadi penuh keprihatinan yang sangat meyakinkan. "Yang Mulia, mohon dengarkan hamba. Hamba tidak sedang membela buta. Hamba hanya ingin memastikan bahwa Anda tidak menjadi korban dari muslihat yang lebih besar. Permaisuri telah dijebak

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 243. Kehamilan Tak Diketahui

    Suara rintihan Selir Murin yang terbawa angin dari balik tirai sutra tebal di dalam kamar perawatan terdengar seperti melodi kematian yang menyayat hati. Di luar, di aula Paviliun Teratai yang kini berbau anyir darah dan aroma herbal yang tajam, Denada berdiri mematung. Jemarinya yang pucat tersembunyi di balik lengan baju hanfu-nya yang lebar, saling meremas begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Udara di sekitarnya terasa membeku, seolah-olah salju yang turun di luar telah merembas masuk dan membekukan aliran darahnya. Denada menunggu dengan kegelisahan yang nyaris meledakkan dadanya. Pikirannya berkecamuk hebat, berputar-putar dalam pusaran ketakutan yang tak berujung. Apa dia akan ketahuan? Racun yang diberikan Raja Debi—pil penghancur kandungan itu—seharusnya bekerja secara perlahan dan sulit dideteksi. Namun, apa yang terjadi pada Selir Mei dan Murin hari ini sungguh di luar kendalinya. Bagaimana bisa Selir Murin, gadis muda yang selama ini tampak pendiam dan jaran

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 242. Perjamuan Teh Beracun

    Denada berdiri diam di depan cermin perunggu yang besar. Cahaya pagi yang redup memantul pada wajahnya yang tampak sepucat pualam. Ia mengenakan hanfu berbahan sutra tebal berwarna biru gelap dengan sulaman benang perak di bagian tepi, memberikan kesan dingin yang semakin mempertegas jarak antara dirinya dan dunia luar. Tangannya yang gemetar semalam kini telah berubah menjadi sedingin es, kaku dan tak bergetar. Ia menatap pantulannya sendiri dengan sorot mata yang hampa. Di balik riasan wajahnya yang sempurna, tersimpan sebuah rahasia yang sanggup menghancurkan sisa-sisa kemanusiaannya. Bayangan ancaman Raja Debi tentang ibunya yang disekap di kandang babi terus terngiang, menjadi cambuk yang memaksanya melangkah ke arah kegelapan. Cucu masuk dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar, kepalanya menunduk dalam. Wajah pelayan itu tampak gelisah, dengan gurat kecemasan yang tak bisa disembunyikan di balik matanya yang sembab. "Yang Mulia," bisik Cucu, suaranya sedikit se

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 241. Racun dan Kandang Kehinaan

    Di dalam kamar pribadinya yang luas namun terasa sesak oleh kenangan pahit semalam, Denada berdiri diam di depan sebuah tempat lilin kuno berbahan perunggu. Tangannya yang masih terasa sedikit gemetar memegang pemantik, menyalakan sumbu lilin satu per satu. Cahaya jingga yang temaram mulai menari-nari di dinding, membiaskan siluet tubuhnya yang ramping namun tampak rapuh, seolah-olah beban yang ia pikul telah mengikis perlahan sisa-sisa kekuatannya.Setiap percikan api yang menyentuh sumbu lilin seolah-olah membakar secuil ingatan tentang Alon yang baru saja memperlakukannya sebagai wadah pelampiasan. Denada menatap nyala api itu dengan mata yang hampa, seakan jiwanya telah terbang menjauh, meninggalkan raga yang hanya sekadar menjalankan fungsinya sebagai Permaisuri pajangan.Keheningan itu pecah ketika pintu kamarnya dibuka dengan terburu-buru. Cucu masuk dengan wajah yang pucat pasi dan mata yang membelalak gelisah. Pelayan setia itu segera mendekat, napasnya sedikit tersengal-

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 240. Tendangan Pertama Si Kecil

    Keheningan yang menyergap aula kediaman Permaisuri saat itu terasa begitu tebal hingga seolah-olah suara napas pun enggan terdengar. Kata "Sayang" yang meluncur dari bibir Arthur masih menggantung di udara, menciptakan efek kejut yang luar biasa bagi lima puluh selir baru yang masih bersujud di lantai. Mereka seperti kumpulan patung porselen yang membeku di tengah jalan, ada yang matanya membelalak menatap lantai, ada yang tangannya gemetar, dan ada pula Vania Mahen yang wajahnya sudah sepucat kertas—terkejut sekaligus merasa baru saja ditampar oleh kenyataan.Diana masih mematung di singgasananya. Ia menatap tangan Arthur yang terulur, lalu beralih menatap wajah suaminya. Arthur berdiri dengan tegak, wajahnya sedatar papan kayu, matanya menatap Diana dengan intensitas yang berlebihan, namun bibirnya tersenyum kaku—sangat kaku hingga Diana curiga otot wajah pria itu mungkin sedang mengalami kram hebat."Sayang?" ulang Diana dengan nada yang naik satu oktav, matanya menyipit penuh s

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 83. Senyum Kemenangan

    Acara perjamuan penutupan akhirnya mencapai ujungnya. Lentera-lentera di lapangan utama masih menyala terang, memantulkan cahaya keemasan di atas permadani merah yang membentang dari pintu tenda hingga halaman terbuka. Musik telah berhenti, gelas-gelas anggur terakhir disingkirkan, dan para bang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 81. Menjadi Apa yang Dibutuhkan

    Diana dan Arthur berpisah tepat sebelum mereka tiba di lapangan utama berburu. Di hadapan mereka, sebuah tenda besar telah dibangun dengan megah—dua pintu masuk yang berbeda, satu untuk pria dan satu untuk wanita, berdiri kokoh dengan lambang kekaisaran tergantung di puncaknya. Hari ini adalah ha

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 86. Rumor

    Sejak hari berburu dan bakti berlalu, rumor mengenai Putra dan Putri Mahkota Kekaisaran bagaikan api yang disiram minyak—tak pernah padam, justru semakin membesar dari hari ke hari. Di kedai teh, di lorong istana, hingga di pasar rakyat, nama Arthur dan Diana menjadi topik yang terus diulang, dibu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 84. Hari Bakti di Bawah Nisan Emas

    Kereta hitam dengan ukiran lambang keluarga bangsawan perlahan berhenti di halaman Istana Putra Mahkota. Suara roda yang bergesekan dengan batu marmer terdengar lirih, seolah turut menghormati momen perpisahan yang tengah berlangsung. Diana dan Arthur turun hampir bersamaan, l

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status