เข้าสู่ระบบDi dalam paviliun utama yang megah namun terasa seperti peti mati berlapis emas, Denada duduk diam di kursi kayunya. Cahaya lilin yang berpijar temaram memantul di matanya yang kini kehilangan binar kehidupan—mata yang seolah telah melihat dasar neraka dan memutuskan untuk menetap di sana.Cucu berdiri di sudut ruangan, jemarinya bertautan gelisah. Ia bisa merasakan aura yang sangat berbeda dari majikannya sejak kepulangan mereka dari penjara bawah tanah Raja Debi tadi malam. Denada tidak lagi menangis, tidak lagi mengeluh. Wanita itu kini menyerupai patung porselen yang dingin dan mematikan.“Cucu,” suara Denada memecah kesunyian, datar tanpa intonasi. “Sampaikan pada pihak Istana Kaisar, bahwa Permaisuri menunggu Yang Mulia Kaisar malam ini. Katakan padanya... aku merindukannya.”Cucu tersentak, matanya membelalak tak percaya. Setelah apa yang Alon lakukan—tamparan itu, penghinaan itu, dan fakta bahwa Alon merencanakan pengkhianatan terhadap keluarga Debi—bagaimana mungkin Denada
Diana membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan di sisi ranjangnya. Area itu masih terasa hangat, namun sosok tinggi besar yang biasanya mendekapnya dengan posesif sudah tidak ada di sana. Diana menghela napas pendek, sebuah desahan yang sarat akan pengertian namun tetap membawa sedikit rasa pahit.Malam ini ia tidak tidur bersama Arthur. Jadwal baru telah ditetapkan secara resmi melalui segel Harem—sebuah protokol yang Diana susun sendiri dengan tangan gemetar namun hati yang teguh. Sebagai Kaisar dari sebuah negeri yang baru saja menata kembali kekuatannya, Arthur mau tidak mau harus mengikuti tradisi kuno, membagi waktunya di antara wanita-wanita yang kini mengisi sayap belakang istananya. Ini bukan lagi tentang keinginan pribadi, melainkan tentang kestabilan politik dan loyalitas para bangsawan."Yang Mulia... Anda sudah bangun?"Suara lembut itu memecah lamunan Diana. Embun melangkah masuk dengan langkah kaki yang tenang dan teratur. Diana menol
"Maaf, Anda dilarang masuk. Yang Mulia Kaisar menutup akses kunjungan ke Istana Permaisuri untuk siapapun, tanpa pengecualian," ucap salah satu penjaga dengan suara berat, sembari menyilangkan tombaknya di depan pintu.Langkah Isabella terhenti. Ia tidak mundur, tidak pula menunjukkan keterkejutan. Mata biru pucatnya hanya menatap datar ke arah ujung tombak yang menghalangi jalannya, seolah benda tajam itu hanyalah ranting pohon yang mengganggu.Namun, Ana tidak memiliki kesabaran setenang majikannya. Gadis itu maju satu langkah, wajahnya memerah karena tersinggung. "Tidak sopan! Apa kau tidak tahu siapa yang kau hadang sekarang?! Beliau adalah Yang Mulia Selir Kehormatan! Orang yang dipercayakan langsung oleh Kaisar untuk memegang otoritas Harem selama seminggu ini!"Seketika, raut wajah kedua penjaga itu berubah. Keyakinan di mata mereka goyah. Mereka saling tatap, terjepit di antara perintah kaku Kaisar dan kekuasaan baru yang sedang dipegang oleh wanita di hadapan mereka. Bena
Isabella duduk dengan sangat anggun di depan meja bundarnya, tangannya yang putih porselen memegang sendok keramik dengan gerakan yang sangat terkontrol. Ia menyesap sup itu perlahan, membiarkan rasa hangatnya menjalar ke seluruh tubuhnya, memberikan sedikit ketenangan di tengah badai intrik yang baru saja pecah kemarin.Namun, perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada makanan di hadapannya. Mata biru pucatnya yang tajam tertuju pada selembar kertas kecil yang baru saja diselundupkan secara rahasia ke dalam istananya melalui kotak kiriman bahan makanan rutin. Kertas itu tampak kusam, namun tulisan di dalamnya membawa pesan yang sangat krusial.Surat dari Denada.Isabella membaca baris demi baris tulisan tangan yang sedikit gemetar namun penuh tekad itu. Sebuah senyuman tipis, nyaris menyerupai seringai kemenangan yang samar, melengkung di bibirnya. Ia meletakkan kertas itu di atas meja, lalu mengetuk-ngetuk jemarinya secara ritmis."Sudah aku duga," gumam Isabella pelan, suarany
Malam itu, salju turun dengan amukan yang lebih dahsyat dari biasanya, seolah-olah langit Norvenia dan wilayah kedaulatan Delore sedang bersekongkol untuk membekukan segala bentuk kehidupan yang tersisa. Di dalam Paviliun Permaisuri yang kini sunyi senyap akibat hukuman kurungan dari Alon, Denada berdiri di balik bayangan pilar kayu yang gelap. Hukuman satu minggu yang dijatuhkan Kaisar seharusnya mengunci langkahnya, namun bagi seorang wanita yang telah terbiasa hidup dalam intrik dan ancaman kematian, tembok istana hanyalah rintangan kecil yang bisa ditembus dengan kepingan emas.Ini adalah minggu ketiga di bulan ini. Sebuah jadwal keramat yang selalu ia jaga dengan nyawanya. Jadwal untuk menemui satu-satunya alasan mengapa ia masih bersedia bernapas di tengah neraka ini, ibunya."Yang Mulia, apa Anda benar-benar yakin akan keluar sekarang?" bisik Cucu, suaranya bergetar hebat karena ketakutan. "Penjagaan di luar sedang sangat ketat. Jika Kaisar atau orang-orang Raja Debi tahu An
Malam telah larut menyelimuti Istana Norvenia, menyisakan kesunyian yang hanya dipecah oleh desau angin musim dingin yang sesekali mengetuk jendela kaca paviliun Permaisuri. Di dalam kamar, cahaya lilin berpijar temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas permadani sutra. Diana bersandar di tumpukan bantal empuk, jemarinya yang pucat mengelus perutnya yang kian membesar. Tubuhnya terasa sangat berat malam ini, dan rasa lelah yang menghimpit paru-parunya membuat setiap tarikan napasnya menjadi perjuangan kecil yang sunyi.Ia baru saja hendak memejamkan mata, mencari sedikit kedamaian dalam lelap, ketika tiba-tiba ketenangan itu hancur berkeping-keping.BRAK!Pintu kayu mahoni yang berat itu terbanting terbuka dengan kekuatan yang luar biasa. Suaranya menggelegar di dalam ruangan yang sunyi, membuat jantung Diana melonjak liar karena terkejut. Secara insting, ia langsung terduduk tegak, kedua tangannya mendekap perut besarnya secara protektif sementara matan
Kereta yang membawa Diana berhenti perlahan di depan gerbang Istana. Salju tipis menyelimuti halaman batu, membuat suasana tampak sunyi dan dingin, berbeda dengan kehangatan yang biasa ia rasakan di Istana Putra Mahkota. Begitu pintu kereta dibuka, Embun segera turun lebih dul
Kereta kuda melaju perlahan meninggalkan kawasan Istana, roda-rodanya berderak halus di atas jalan batu yang mulai diselimuti salju tipis. Di dalam kereta, Diana duduk tegak dengan kedua tangan terlipat rapi di pangkuannya. Tirai jendela sedikit terbuka, membiarkan cahaya senj
Isabella melangkah masuk ke aula peresmian klinik kecantikan Ruyi dengan langkah anggun dan tenang. Salju tipis masih melekat di ujung mantel bulu rubah putihnya, namun itu justru membuatnya tampak semakin memesona. Gaun sutra berwarna biru pucat dengan sulaman bunga plum pera
Harsa duduk termenung di ruang kerjanya, jari-jarinya menggenggam gulungan salinan catatan majelis pagi hari ini. Kertas itu terbuka di hadapannya, tinta hitam tergores rapi oleh para pejabat kekaisaran, membahas hal-hal penting tentang pangan, pajak, dan stabilitas wilayah. Namun, tak satu pun d







