Harsa melangkah dengan tergesa ke halaman belakang istananya, jubah panjangnya terseret angin sore yang mulai menggigit. Langkahnya yang semula cepat perlahan melambat ketika sosok berbalut mantel putih itu memasuki pandangannya. Diana berdiri membelakanginya, rambut hitamnya terurai rapi dengan hiasan sederhana yang memantulkan cahaya keemasan matahari senja. Siluetnya tampak rapuh, namun entah mengapa memancarkan ketegasan yang sulit dijelaskan.“Dian—” lidah Harsa terlanjur bergerak, namun ia segera mengoreksi dirinya, suara yang keluar berikutnya jauh lebih tertata, “Putri Mahkota.”Ada kegelisahan yang tak sempat ia sembunyikan dalam sorot matanya. Nama itu, panggilan lama yang dulu begitu akrab, kini terasa seperti jarak yang tak bisa diseberangi.Diana berbalik perlahan. Wajahnya tenang, bibirnya melengkung membentuk senyum formal yang tak menyentuh mata. “Pangeran,” sapanya singkat.Harsa membalas senyum itu, lebih lembut, lebih manusiawi. “Apa yang membuat Putri berkenan m
Read more