Bab 42Darahku terasa tersirap. Ingin menyangkal, tapi rasanya tidak mungkin, melihat betapa antusiasnya pelayan itu dan juga Melvin. Aku tidak berani menjelaskan apapun, bahkan kepala ini malah mengangguk, dan mengucapkan, "aku ingin makan ayam goreng dengan lalapan dan juga teh hangat.""Baiklah, Mbak cantik. Ditunggu sebentar ya." Pria muda itu akhirnya pergi, masuk ke ruangan dalam setelah mencatat pesanan kami.Ketika kami bertemu pandang, aku langsung membuang pandanganku ke arah dalam warung tenda ini. Entah apa aktivitas orang di dalam sana. Aku menghela nafas, lalu tiba-tiba saja sepasang tangan itu membuat jemariku menegang sempurna. Genggaman yang lembut, tapi sangat hangat. Sungguh, entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi merasakan genggaman hangat seperti ini.Dulu saat belum menikah dengan Bima, aku masih bisa menikmati hal seperti ini. Bima selalu pasang badan, karena merasa aku adalah gadis kesayangan oma Trisna.Bima baru menjauh setelah ia sibuk dengan kuliah
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-29 อ่านเพิ่มเติม