Wildan menatap mata Meysa lekat-lekat, mencari kejujuran di sana, atau mungkin mencari jawaban yang bahkan ia sendiri tidak yakin miliki. Pertanyaan Meysa terasa seperti sebuah draf revisi yang berat, yang memaksanya untuk memilih di antara logika profesional dan perasaan yang perlahan tumbuh tanpa izin. “Mungkin,” jawab Wildan pelan, suaranya nyaris tertelan angin pagi Puncak. “Kalau jadwal aku nggak padat.” Meysa mencibir pelan, namun senyum kecil di sudut bibirnya tidak bisa ia sembunyikan. “Jawabanmu klasik banget sih, Tuan Editor. Nggak bisa ya, sekali-kali jawabannya tuh lebih puitis dikit? Kayak, ‘Tentu saja, Meysa. Kapan pun kamu mau, kita akan lari ke ujung pelangi bersama’.” Wildan mendengus geli. “Kalau aku jawab begitu, aku khawatir kamu malah akan muntah dan nuduh aku mabuk lem. Lagian, hidup itu bukan novel picisanmu, Meysa. Nggak semua hal harus dramatis.” “Siapa bilang nggak harus dramatis?” Meysa memiringkan kepalanya, menatap Wildan dengan binar nakal di matanya
Last Updated : 2025-12-24 Read more