"Mana aku tahu Pak Adam sudah lihat atau belum," suara Fiona di seberang telepon terdengar agak menjauh, seolah ia sedang menggeser posisi duduknya. "Kemungkinan besar sih sudah, atau minimal ada sekretarisnya yang melapor. Kamu tahu sendiri kan, Pak Adam itu paling alergi kalau nama PenaKata disangkutpautkan dengan berita miring. Kalau sampai dia lihat, siap-siap saja ponselmu bakal berdering besok pagi. Dia pasti minta penjelasan komplit darimu."Wildan menghela napas berat, matanya terpejam sejenak merasakan denyut nyeri di pelipisnya yang kian menjadi. "Iya, aku mengerti. Aku akan urus itu besok.""Ya sudah kalau begitu. Kamu istirahatlah," ujar Fiona. Nada suaranya sedikit melunak, namun masih menyisakan ketegasan. "Obat dari perawat biasanya bikin ngantuk, kan? Jangan dipaksakan mikir yang berat-berat dulu."Wildan baru saja akan mengucapkan terima kasih dan menutup telepon, namun Fiona belum selesai bicara."Satu lagi, Wil," potong Fiona cepat. Suaranya merendah, berubah menjad
Last Updated : 2026-01-05 Read more