Keheningan kembali merayap, menyelimuti sudut-sudut villa yang kini terasa jauh lebih luas dan sepi tanpa suara tawa paksaan dari Andi atau Bulan. Aroma martabak manis yang tadi sempat menggoda selera, kini mendingin begitu saja di atas meja, seolah kehilangan daya tariknya. Meysa masih berdiri di posisi yang sama, menatap punggung Wildan yang tampak kaku di sofa. Jawaban tentang "Lia" tadi seperti sebuah pintu yang terkunci rapat, dan Meysa merasa harus menemukan kuncinya malam ini juga, atau ia tidak akan bisa tidur dengan tenang. “Wildan,” panggil Meysa lagi, suaranya lebih lembut namun penuh penekanan. “Aku nggak butuh alibi soal utang aplikasi atau igauan demam. Aku cuma mau tahu … siapa Lia?” Wildan tetap memejamkan mata. Nafasnya teratur, namun Meysa tahu pria itu tidak sedang tidur. Ada kerutan tipis di dahi Wildan yang menandakan pikirannya sedang berperang. “Aku profesional, Meys,” jawab Wildan akhirnya, suaranya terdengar parau dan lelah. “Sebagai editor, aku nggak sehar
Last Updated : 2025-12-27 Read more