Wildan masih sibuk dengan ponselnya. Ia menggeser-geser layarnya, mencoba menemukan 'seberkas cahaya' berupa sinyal internet. Tiba-tiba, Wildan berseru pelan, “Dapat! Aku dapat sinyalnya walau cuman satu bar!” Ia buru-buru mendekat ke meja makan, lalu duduk kembali di kursinya, mencoba memanfaatkan sinyal yang baru didapat. Saat ia kembali ke meja, matanya langsung tertuju pada Meysa. Meysa sudah bersandar di sandaran kursi, pipinya merona merah, matanya sedikit terpejam. Tangan kirinya masih memegang gelas sirup, sementara tangan kanannya menggenggam kacang sukro yang kini tidak ia makan. Tubuhnya terlihat lemas dan tidak fokus. “Meys, kamu kenapa?” panggil Wildan, nada suaranya langsung berubah waspada. Ia menyingkirkan ponselnya, memasukannya ke dalam saku celananya. Kini hanya cahaya dari lilin gereja yang menerangi mereka. Ia menggoyangkan bahu Meysa. “Meys!” Meysa membuka matanya perlahan. Senyum lebar, yang terlalu lebar dan terkesan nakal, merekah di wajahnya. Matanya yan
Last Updated : 2025-12-05 Read more