Meysa membaca tulisan tangan yang dikenalnya itu dengan seksama, ~ Sayang, aku minta maaf. Aku tahu aku banyak salah. Aku menyesal. Aku cuma butuh kamu, Meysa. Aku nggak suka kamu dikirim ke Puncak sama Editor keparat itu! Jauhi dia. Atau aku akan pastikan kamu nggak akan pernah bisa menulis lagi! Aku datang buat jemput kamu. ~ 'Ini pasti ulah Dimas!' Meysa mundur selangkah, napasnya tercekat. Dimas. Mantan pacarnya yang obsesif, posesif, dan abusif itu benar-benar mengancamnya. Dan yang lebih menakutkan, dia tahu di mana Meysa berada. “Itu … itu Dimas,” bisik Meysa, air matanya mulai menetes. Ia teringat semua teror dan pesan obsesif yang selama ini ia abaikan. Wildan menarik napas tajam, ekspresinya kini tidak ada lagi keangkuhan, hanya kegarangan yang murni. Ia menatap Meysa, lalu melihat kepingan batu bata dan juga serpihan kaca jendela yang berserakan. Ancaman itu nyata. “Dia tahu kita di sini,” kata Wildan, suaranya rendah dan berbahaya. “Dia mengancammu.” Wildan l
Last Updated : 2025-12-11 Read more