Kara mengangguk, “Party, ya? Kenapa enggak?”“Boleh?” Tanya Diandra memastikan.“Boleh, dong. Itung-itung sebagai party pra-engagement kita. Bentar aku minta tolong Vincent buat reservasi dulu,” Kara meraih ponsel dari sakunya, lalu bergerak ke samping untuk menghubungi PA andalannya.“Udah oke, nih. Ntar malem, ya. Di tempat biasa, atas nama Kara.” Ucapnya kemudian.“Kamu nggak apa-apa, aku party dalam keadaan kayak gini?”“Nggak ada yang salah dengan keadaan kamu. Kalo ada yang berani mengolok hanya karena kaki kamu lagi sakit, aku akan langsung hajar dia di tempat.”“Gue juga,” sahut Lavie.“Gue juga,” sahut Seno tak mau kalah.“Makasi, sayang… dan juga kalian semua.” Diandra tersenyum, mengelus punggung tangan Kara yang diletakkan di bahunya.***Mereka
Read more