“Daisy ….” Nama itu meluncur dari bibir Jade dengan suara rendah dan serak. Jarak mereka menyempit ketika pria itu menunduk, wajahnya semakin dekat, hingga Daisy bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata Jade yang gelap. Napas mereka saling bersentuhan, hangat, berat, sarat sesuatu yang tidak terucap. Jade hendak mendaratkan ciuman itu. Namun sebelum bibir mereka benar-benar bertemu, Daisy mengangkat tangan. Jari telunjuknya menempel ringan di bibir Jade, menghentikan gerakan pria itu tepat di ambang. Jade terpaku. Detik itu terasa ganjil. Dia tidak melawan saat Daisy mendorong sedikit dadanya, cukup untuk memberi jarak. Ironisnya, penolakan halus itu justru membuat rahang Jade menegang, dan hasrat di matanya semakin kentara. “Jangan,” sergah Daisy pelan, napasnya belum sepenuhnya stabil. Jade menelan ludah, kedua matanya tidak lepas dari wajah Daisy. “Kenapa?” “Itu Andrew, Tuan.” Daisy menjelaskan s
Última actualización : 2025-12-21 Leer más