"Nilna!"Suara Reyhan menggema di sepanjang lorong. Langkahnya cepat, nyaris berlari, menoleh kiri kanan, matanya mencari satu wajah yang tidak ia temukan di dalam apartemennya. Pintu-pintu apartemen berdiri diam, seolah menertawakannya."Nilna!" panggilnya lagi, lebih keras.Tak ada jawaban.Reyhan berhenti sejenak, dadanya naik turun. Tangannya menyisir rambut, napasnya belum stabil. Ia melangkah lagi, membuka pintu tangga darurat, mengintip sebentar, lalu kembali. Ada rasa asing merayap, perasaan kehilangan yang datang tiba-tiba, terlalu cepat."Ke mana kamu…" gumamnya lirih, saat ia kembali ke apartemennya."Mas.... " Nilna yang saat melihat Reyhan panik tadi masih menangis di balik almari, tak tega tak memanggilnya setelah menghapus air matanya.Reyhan berbalik.Nilna berdiri beberapa langkah darinya. Senyum kecil terbit, tipis, seolah tak ada apa-apa. Topi hitam masih menutup sebagian wajah, tapi mata itu, mata yang selalu ia kenal, menatap lembut.Reyhan tidak berpikir panjang.
آخر تحديث : 2026-02-27 اقرأ المزيد