Di sofa, tubuh yang sejak tadi terbaring diam mulai bergerak.Matanya terbuka perlahan. Nafasnya terdengar berat, seperti baru saja ditarik dari dasar yang dalam.Perempuan itu mengerjap beberapa kali, mencoba fokus. Tatapannya berpindah, dari Nilna, ke Renji, lalu ke Reyhan.Ada sesuatu yang aneh dalam sorot matanya. Tidak sepenuhnya lemah. Tidak juga sepenuhnya sadar.Ia menelan pelan sebelum bicara lagi.“Lupakan… Nilna…”Kalimat itu keluar terputus, tapi jelas.Renji membeku.“Apa?” suaranya hampir tidak terdengar.Rea menarik napas lagi, lebih dalam kali ini, walau terasa menyakitkan.“Lupakan dia, Renji.”Sunyi kembali turun. Lebih berat dari sebelumnya.Wajah Renji berubah. Sesuatu di matanya retak begitu saja.“Tante tidak tahu apa yang Tante bilang,” gumamnya.Rea tersenyum tipis. Lemah. Tapi ada ketegasan di sana.“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Lebih dari yang kamu kira.”“Semua ini…” lanjut Rea, suaranya makin pelan, “…tidak akan selesai kalau kamu tetap bertahan.”Renji meng
Read more