"Dua-duanya sudah tidur," suara Nilna pelan, membuat lamunan Reyhan buyar.Reyhan tersadar. Ia mendekat perlahan."Iya," jawabnya singkat.Nilna menatap Anaya. Jemarinya mengusap pipi kecil itu dengan sangat hati-hati, takut membangunkan, takut merusak ketenangan tidurnya."Dia tadi panik," bisik Nilna. "Seperti merasa akan kehilangan sesuatu."Reyhan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap perempuan di hadapannya yang terlihat bahagia."Sekarang sudah tenang," lanjut Nilna. Ia menunduk sedikit, menempelkan pipinya ke kepala Anaya. Gerakan kecil, tapi cukup untuk menjelaskan semuanya.Reyhan menelan napas. Ada sesuatu yang bergerak pelan dalam dadanya. Hangat, namun juga menyesakkan."Nilna," panggilnya.Perempuan itu mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu lagi. Beberapa detik, cukup lama untuk membuat suasana terasa berbeda."Ada yang ingin aku bicarakan," lanjut Reyhan.Nilna mengerutkan kening sedikit. "Sekarang?""Iya." Nada suara Reyhan tenang.Nilna tidak langsung menjawab.
Read more